Table of Contents
Sudah lama kita mengenal yang namanya bias kognitif dan logical fallacy di era post truth ini. Saya juga sudah pernah tuliskan definisinya dalam dua artikel ini: (bias kognitif dan logical fallacy)
Nah, sejak 2016, ada istilah baru nih, yaitu Post-Truth. Jadi apa sih Post-Truth itu? Sederhananya, Post-Truth adalah kondisi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dibanding emosi, kepercayaan pribadi, dan opini dalam membentuk pandangan seseorang. Kalau versi keras dari saya adalah ketika sebuah “ilusi’ diyakini sebagai logika. Ayo kita kupas lebih dalam kaitannya dengan era digital beserta satu contoh yang rupanya amat menggelitik saya selama beberapa bulan terakhir.
Memahami Akar Psikologis Post-Truth
Perkenalan dulu, istilah ini dipopulerkan oleh Oxford Dictionaries pada tahun 2016, ketika fenomena ini dianggap semakin terlihat dalam kehidupan publik, terutama di politik dan media. Eh tapi, meskipun istilahnya baru populer, cara berpikir yang melahirkan Post-Truth sudah ada sejak lama. Jadi sebenarnya, ini bukan konsep baru. Sebelum istilah “Post-Truth” dikenal luas, para ahli sudah lama mempelajari bagaimana manusia sering kali nggak sepenuhnya rasional dalam memproses informasi.
Beberapa konsep penting yang menjadi dasar Post-Truth antara lain:
1. Confirmation Bias
Ini adalah kecenderungan manusia untuk mempercayai informasi yang mendukung keyakinannya, lantas mengabaikan atau meremehkan informasi yang bertentangan.
2. Cognitive Dissonance
Ketika seseorang menghadapi fakta yang bertentangan dengan keyakinannya, dia akan merasa nggak nyaman. Sebuah fakta yang nggak menentramkan hatinya, maka dia nggak akan menerima sekalipun ada data dan penelitian yang mendukung.
3. Availability Heuristic
Manusia cenderung menilai sesuatu berdasarkan contoh yang mudah diingat. Biasanya ini dikuatkan oleh kebiasaan malas mikir, nggak terbiasa kritis, atau literasi rendah.
Media Sosial Mempercepat Penyebaran Opini

Nah, di masa sekarang nih, teknologi mempercepat penyebaran narasi-narasi yang menyebabkan tiga hal di atas semakin kuat. Sadar nggak, bahwa algoritma media sosial kita memperkuat echo chamber alias lingkaran opini yang sama? Kalau kita punya satu opini dan terdeteksi melalui interaksi dan waktu tonton di media sosial, kita akan semakin disuguhi dengan konten serupa, sehingga keyakinan kita pada opini itu akan semakin kuat.
Masalahnya, informasi emosional lebih mudah viral daripada data. Akibatnya, bias yang dulu tersembunyi, sekarang jadi fenomena massal. Istilah Post-truth awalnya tercetus akibat peristiwa politik besar. Tapi saya rasa, sekarang ini sudah nggak hanya soal politik saja. Post-Truth juga hadir dalam cara kita menilai orang, cara kita membangun hubungan, sampai ekstremnya, ke cara kita memahami diri sendiri. Kalau kitanya nggak sadar-sadar, kita bisa saja lho menghakimi orang berdasarkan stereotip, salah memahami perilaku manusia, dan mengambil keputusan berdasarkan asumsi yang nggak akurat.
Contoh Jebakan Post-Truth: Stereotip Logika vs Emosi
Seperti yang saya tuliskan di awal artikel, saya mau kasih contoh akan jebakan Post-Truth yang akhir-akhir ini sering digadang-gadang sampai buat telinga gatal, yaitu stereotip yang bilang bahwa “laki-laki dominan logika dan perempuan dominan perasaan”. Generalisasi nampaknya adalah kebiasaan paling susah untuk dihilangkan. Dan ini legit sekali memang untuk dimanfaatkan oleh orang-orang yang mau melakukan propaganda.
Ada satu jebakan yang sering nggak disadari oleh banyak orang yaitu ilusi bahwa kita bisa benar-benar memahami manusia. Karena sudah melihat banyak pola, banyak karakter, banyak konflik, muncul keyakinan halus semacam: “Aku sudah paham cara kerja manusia.” Masalahnya, manusia bukan sistem sederhana yang bisa diringkas dalam beberapa pola tetap. Dalam dunia psikologi pun, memahami manusia secara akurat hingga 100% itu nyaris mustahil.
Setiap individu dipengaruhi oleh kombinasi yang sangat kompleks seperti genetika, lingkungan, budaya, pengalaman hidup, trauma, pendidikan, sampai konteks situasi saat itu. Dua orang dengan latar belakang mirip pun bisa bereaksi sangat berbeda terhadap hal yang sama. Artinya, setiap upaya untuk menyederhanakan manusia ke dalam satu-dua label pasti akan kehilangan sebagian besar realitasnya.
Ilusi Memahami Manusia: Pendekatan Sains vs Asumsi
Di sinilah sering muncul kesalahan yang tampak “masuk akal”, tapi sebenarnya menyesatkan. Generalisasi seperti “laki-laki dominan logika, perempuan dominan perasaan” terasa benar karena sederhana dan mudah diingat. Namun, itu adalah bentuk penyederhanaan yang terlalu brutal.
Dua kalimat sederhana ini mengabaikan fakta bahwa banyak laki-laki yang sangat emosional dan banyak perempuan yang sangat rasional. Stereotip ini juga mengabaikan fakta bahwa “logika” dan “emosi” bukan dua hal yang saling meniadakan, keduanya selalu hadir dalam setiap manusia, hanya dengan proporsi dan cara ekspresi yang berbeda.
Bahkan, alat populer seperti MBTI pun dalam dunia psikologi masih sering diperdebatkan tingkat keilmiahannya. MBTI memang berguna sebagai alat refleksi diri atau memahami preferensi, tapi nyatanya nggak dirancang untuk memberikan gambaran psikologis yang akurat dan komprehensif.
Sebaliknya, model seperti Big Five Personality Traits (OCEAN) dianggap lebih kuat secara ilmiah karena berbasis penelitian empiris yang lebih konsisten dan mengukur kepribadian dalam spektrum, bukan pengkategorian kaku atau labelling. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam ranah ilmiah sekalipun, pendekatan terhadap manusia cenderung probabilistik dan fleksibel, bukan hitam-putih.
Ilusi “saya sudah paham manusia” menjadi berbahaya ketika keyakinan itu membuat seseorang berhenti mempertanyakan asumsi-asumsinya sendiri. Dia mulai melihat dunia melalui lensa yang sempit, lalu menganggap lensa itu sebagai realitas. Setiap perilaku orang lain akan ditafsirkan agar sesuai dengan kerangka yang sudah dia yakini. Di titik inilah, penyederhanaan berubah menjadi keyakinan, dan keyakinan berubah menjadi “kebenaran pribadi” yang sulit digoyahkan.
Semakin dalam seseorang belajar psikologi, biasanya semakin ia menyadari betapa kompleksnya perilaku manusia. Bukan menjadi lebih yakin dengan jawaban sederhana, melainkan menjadi lebih hati-hati dalam membuat kesimpulan. Karena pada akhirnya, realitas manusia jauh lebih luas daripada sekadar label, tipe, atau stereotipe apa pun yang kita gunakan untuk mencoba memahaminya.
Figur Publik dan Efek Otoritas Semu di Era Post Truth
Dalam banyak kasus, post-truth tidak hanya terbentuk dari bias dalam diri kita, tetapi juga dari peran tokoh atau figur publik yang membentuk narasi. Ketika seseorang memiliki otoritas sosial—entah karena popularitas, gaya bicara yang meyakinkan, atau citra “bijak”—apa yang dia katakan bisa terasa lebih benar daripada fakta itu sendiri.
Misalnya, jika ada figur yang kerap membahas perbedaan laki-laki dan perempuan dari sudut pandang cara kerja otak. Narasi seperti “otak laki-laki lebih fokus dan logis, otak perempuan lebih emosional dan multitasking” disampaikan dengan penuh keyakinan dan kemasan yang mudah dipahami. Bagi banyak orang, ini terasa masuk akal, bahkan terasa seperti penjelasan ilmiah.
Masalah terjadi ketika klaim-klaim semacam ini nggak didukung oleh konsensus kuat dalam dunia ilmiah, khususnya dalam bidang Neuroscience dan Psychology. Banyak peneliti menunjukkan bahwa perbedaan otak laki-laki dan perempuan nggak sesederhana itu. Dan variasi antar individu jauh lebih besar daripada perbedaan antar gender. Bahkan pendekatan modern cenderung melihat otak manusia sebagai spektrum kompleks, bukan dua sistem yang benar-benar berbeda.
Nah, di sinilah mekanisme Post-Truth bekerja. Ketika ada dua sumber informasi, satu yang ilmiah, kompleks, penuh data, sedangkan satunya lagi sederhana, tegas, dan mudah dicerna, banyak orang akan lebih tertarik pada yang kedua. Kenapa? Karena narasi yang sederhana lebih mudah dipahami, lebih cepat diproses otak , terasa lebih “nyambung” dengan pengalaman sehari-hari.
Di sisi lain, penjelasan ilmiah seringnya malah penuh pengecualian, nggak hitam-putih, dan justru mengakui ketidakpastian. Akibatnya, figur seperti contoh di atas, bisa menjadi “jangkar kebenaran” bagi banyak orang, semata-mata karena kekuatan narasi dan kepercayaan publik yang sudah terbangun, bukan karena kebenaran ucapannya.
Fenomena ini juga diperkuat oleh Confirmation Bias tadi. Orang yang sejak awal sudah percaya bahwa laki-laki dan perempuan “sangat berbeda secara fungsi otak” akan lebih mudah menerima narasi tersebut. Setiap penjelasan yang mendukung keyakinan itu akan terasa benar, sementara kritik dari pakar lain justru diabaikan atau dianggap nggak relevan. Selain itu, ada juga efek “otoritas semu.”
Ketika seseorang sering tampil di media, berbicara dengan percaya diri, dan menggunakan istilah-istilah ilmiah, publik cenderung menganggapnya sebagai ahli meskipun nyatanya, latar belakangnya nggak sepenuhnya sesuai dengan bidang yang dibahas. Di sinilah batas antara keahlian nyata dan persepsi keahlian menjadi kabur. Dari satu contoh di atas saja, ada gambaran, kan, gimana sebuah ilusi atau keyakinan pribadi bisa diubah seolah menjadi logika?
Bagaimana Cara Selamat dari Jebakan Post-Truth?

Selamat dari jebakan Post-Truth bisa dimulai dari satu kesadaran sederhana, bahwa cara kita berpikir bisa jadi nggak seobjektif yang kita kira. Bahwa di balik setiap keyakinan yang terasa “jelas” dan “masuk akal”, ada kemungkinan kita sedang melihat dunia melalui lensa yang sempit. Kita bisa mulai dari mempertanyakan: ini benar, atau hanya terasa benar? Karena sering kali, yang terasa paling meyakinkan justru adalah hasil dari Confirmation Bias.
Dari situ, perjalanan berlanjut pada keberanian untuk melihat ke arah yang lebih nggak nyaman. Mulai berpikir kalau mencari sudut pandang yang berlawanan bukanlah upaya untuk melemahkan keyakinan. Kadang, ini justru cara untuk mengujinya. Kebenaran yang kuat nggak akan runtuh karena diuji, tapi keyakinan yang rapuh sering kali akan menolak diuji sejak awal. Maka, membuka diri pada argumen yang berbeda bukan tanda kebingungan, melainkan tanda kedewasaan berpikir.
Kesadaran lain yang nggak kalah penting adalah menerima bahwa realitas itu seringnya justru nggak sederhana sama sekali. Penjelasan yang terlalu rapi, terlalu hitam-putih, itulah yang biasanya malah mengorbankan kebenaran demi kenyamanan. Di titik inilah kita perlu melepaskan ilusi bahwa kita sudah benar-benar memahami dunia dan manusia di dalamnya. Dalam banyak kasus, bukan ketidaktahuan yang menyesatkan, melainkan keyakinan bahwa kita sudah tahu. Ketika seseorang berhenti mempertanyakan segala sesuatu termasuk dirinya sendiri, di situlah dia paling rentan terjebak dalam Post-Truth.
Pada akhirnya, selamat dari Post-Truth bukan berarti selalu benar. Itu adalah hal yang hampir mustahil. Tapi setidaknya, kita bisa menjadi orang yang lebih hati-hati untuk percaya, lebih terbuka dalam mendengar, dan lebih jujur dalam mengakui bahwa kita bisa saja salah. Dengan begitu, potensi terjebak ke dalam Post-Truth akan lebih terminimalisir. Tapi, kalau sedari awal kita sudah buat benteng keyakinan bahwa kebenaran justru adalah yang menentramkan hati kita saja, maka kita bukan sedang terjebak melainkan mengubur diri dalam jurang Post-Truth dan secara sadar, nggak mau keluar untuk melihat kebenaran.
Bukan intermezo, saya akan tutup dengan pertanyaan ringan: Bayangkan kalian sedang presentasi hasil skripsi. Ketika dosen penguji bertanya, “Apa dasar dari kesimpulanmu?”, lantas kamu menjawab, “Kesimpulan inilah yang menentramkan hati saya, Pak.”
Apakah kamu akan langsung diberi nilai A atau justru diusir? Hehe.
Ngomong-ngomong soal stereotyping dan ilusi yang kita yakini, ini juga sering banget terjadi saat kita nulis novel. Tokoh cowok selalu digambarin rasional dan dingin, tokoh cewek selalu emosional dan penuh drama. Padahal, realitas manusia jauh lebih kompleks dari itu!
Nah, kalau kamu berani mendobrak stereotipe dan bikin cerita yang relate dengan kompleksitas manusia, ini saat yang tepat buat ikutan Pesta Menulis Litera 1! Kirim naskah jujurmu dengan penokohan yang hidup. Butuh teman bedah naskah atau pengen ngobrol deep soal kepenulisan? Yuk, gabung di Komunitas Penulis Online Produktif (KPOP).
