Table of Contents
Kalau kamu suka nulis novel, cerpen, fanfic, atau naskah film, kamu pasti pernah ngalamin momen di mana dialog tulisanmu terasa “aneh”. Kaku. Kering. Kayak chat WA bapak-bapak.
Padahal, dialog itu salah satu elemen paling penting dalam cerita. Melalui dialog, pembaca bisa tahu karakter kamu tuh beda-beda, bisa ngerasain emosi mereka, dan bisa ikut kebawa suasana adegan.
Kabar baiknya, bikin dialog yang natural itu bisa dipelajari, lho.
Kali ini, aku mau kasih 7 cara menulis dialog novel biar nggak kaku. Artikel ini bakal jadi cheat sheet kamu buat bikin dialog yang ngalir, nggak cringe, nggak maksa, dan tetap asyik dibaca .
Let’s go!
Baca juga : Langkah Sebelum Nulis Novel
1. Jangan Terlalu Baku: Gaya Bicara Manusia Itu ‘Berantakan’
Banyak penulis pemula merasa dialog harus rapi, sopan, dan gramatikal. Padahal … orang kalau ngomong, tuh, nggak begitu.
Orang ngomong tuh kadang berantakan, kadang sepotong-sepotong, kadang banyak filler seperti “kayak”, “ehm”, “serius?”, “anjir”, dan sebagainya (selama itu sesuai karakter ya).
Perbedaan Dialog Kaku vs Natural
Coba bandingkan dua contoh ini:
Contoh Kaku:
“Baiklah, saya akan mengantarkan laporan tersebut ke ruang pimpinan sekarang.”
Contoh Natural (Realistis):
“Oke, saya antar sekarang. Laporannya sudah lengkap, kok.”
Kerasa, kan? Bedanya bukan cuma soal kata-kata, tapi vibe-nya.
Tips Simpel:
- Pikirin cara manusia kalau lagi ngomong beneran.
- Baca dialognya keras-keras. Kalau di telinga terdengar aneh, berarti ya memang aneh.
- Hindari kata-kata yang terlalu formal kecuali karakternya memang begitu.
2. Sesuaikan dengan Latar & Usia Karakter
Dialog itu harus mencerminkan siapa yang lagi ngomong.
Anak SMA beda bahasanya sama bapak-bapak kantor. Cewek 17 tahun beda gaya ngomongnya sama tante-tante pas lagi arisan. Karakter bangsawan era kolonial pasti beda dengan karakter Gen Z.
Pokoknya: jangan samain gaya ngomong semua karakter.
Contoh Perbedaan Suara Karakter
- Dialog Remaja: “Serius lo? Gila sih … gue pikir cuma gosip doang.”
- Dialog Orang Tua: “Benarkah begitu? Ibu hanya ingin memastikan kamu tidak salah melangkah.”
- Dialog Gen Z: “Hah? Ciyus? Nggak mungkin. Lo becanda, kan?”
Perbedaan kecil ini bikin karakter makin hidup dan gampang dibedain.
3. Tambahin Emosi: Gabungkan Kata dengan Gestur
Manusia kalau ngomong tuh nggak cuma pakai mulut doang. Ada mimik wajah, tangan, mata, jeda, helaan napas, sampai kegelisahan.
Makanya, cara menulis dialog yang hidup adalah dengan menambahkan detail kecil seperti: dia menunduk, menarik napas, menatap gelisah, atau memainkan ujung bajunya .
Dialog Tanpa Emosi vs Dengan Emosi
Tanpa Emosi (Datar) :
“Aku sedih kamu pergi.”
Dengan Emosi (Menusuk) :
“Kamu … beneran mau pergi?” Dia menunduk, suaranya kecil namun masih bisa terdengar oleh sosok di depannya.
“Aku kira kamu masih butuh aku. Ternyata, justru akulah yang terlalu terikat padamu.”
Informasinya sama, tapi feel-nya jauh lebih menusuk dan greget, kan?.
4. Hindari Infodump: Dialog Bukan Tempat Ceramah

Kesalahan paling sering dilakukan penulis pemula adalah si tokoh ngomong panjang lebar kayak lagi presentasi demi menjelaskan latar belakang cerita. Ini namanya Infodump, dan ini bikin dialog terasa maksa banget.
Cara Memperbaiki Infodump
Contoh Infodump (Jelek) :
“Seperti yang kita ketahui bersama, lima tahun lalu desa ini mengalami bencana letusan gunung …” (Masalahnya: karakter dalam cerita biasanya udah tau informasi itu, jadi aneh kalau diomongin lagi).
Contoh Natural :
“Saya masih ingat saat gunung itu meledak lima tahun lalu.”
“Iya … jangan diingetin lagi. Rumah kami lenyap waktu itu.”
Informasi masih tersampaikan, tapi nggak ngebosenin.
5. Pakai Subteks: Makna Tersirat yang Bikin Dalam
Subteks adalah apa yang karakter pikirkan, tapi nggak mereka ucapkan secara langsung. Manusia jarang ngomong straight to the point, begitu juga seharusnya tokoh novelmu.
Bedanya Dialog ‘Jujur’ dan Subteks
Tanpa Subteks (Terlalu Gamblang) :
“Aku cemburu karena kamu jalan sama dia.”
Dengan Subteks (Realistis) :
“Seru banget ya … jalan sama dia sampai lupa waktu?”
Di sini, pembaca bakal ngerti : karakter ini cemburu, tapi gengsi buat ngaku. Subteks bikin dialog kamu lebih “dewasa”.
6. Perhatikan Ritme: Mainkan Panjang-Pendek Kalimat
Ritme dialog itu kayak musik. Jangan biarkan datar.
- Kalau adegan tegang → pakai kalimat pendek, cepat, meledak-meledak.
- Kalau adegan mellow/sedih → kalimat bisa lebih panjang, lambat, penuh jeda.
Contoh Penggunaan Ritme
Ritme Tegang :
“Lari!”
“Nggak bisa!”
“Bisa! Ayo!”
Ritme Mellow :
“Aku cuma … pengen kamu tau,” katanya pelan, “meskipun semuanya kacau, aku janji nggak bakal ninggalin kamu.”
Ritme membantu pembaca merasakan mood tanpa kamu harus jelasin panjang lebar.
7. Campurin Dialog dan Aksi (Action Beat)

Dialog terus-menerus tanpa jeda bikin pembaca capek (biasa disebut Talking Heads). Jangan lupa, tambah sedikit gesture, deskripsi ringan, atau reaksi lawan bicara.
Transformasi Dialog Monoton Menjadi Hidup
Monoton :
“Kamu mau pergi?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku capek.”
Lebih Hidup :
“Kamu mau pergi?” Dia meraih tasnya tanpa menatapku.
“Iya,” jawabnya singkat.
Aku yang merasa belum puas dengan jawaban tersebut, segera membalas, “Kenapa?”
“Aku capek, Dan. Capek sama semuanya.”
Langsung kerasa dramanya, bukan? Yuk cobain, deh.
Kesimpulan: Dialog Natural Adalah Kunci Cerita yang Hidup
Dialog yang enak dibaca itu gabungan dari banyak elemen: santai, sesuai karakter, penuh emosi, ada subteks, ritmenya dapet, dan ditemenin aksi kecil .
Kalau kamu praktekin 7 cara menulis dialog di atas, tulisan kamu bakal lebih relate, lebih Gen Z-friendly, dan pastinya lebih cinematic .
Jadi, kapan nih mau mulai praktek? Jangan cuma dibaca, tapi direalisasikan, ya!.
Mau belajar teknik penulisan lainnya biar makin jago? Yuk, gabung di Komunitas Penulis Online Produktif atau baca tips menulis lainnya di link ini. Dijamin nggak bakal nyesel!.
