Table of Contents
Dalam menulis fiksi, banyak penulis berpikir bahwa semakin panjang narasi, semakin dalam pula ceritanya. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Terlalu banyak narasi justru bisa melemahkan cerita. Kenapa? Pembaca jadi gampang lelah, dan kehilangan emosi yang seharusnya terasa kuat dan hidup dengan adanya interaksi antar tokoh.
Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi? Yuk, kita bedah satu per satu.
1. Narasi dalam Novel Berlebihan, Menghilangkan Ruang bagi Pembaca
Cerita yang baik memberi ruang bagi pembaca untuk ikut merasakan, membayangkan, dan menafsirkan.
Ketika semua perasaan, pikiran, dan makna dijelaskan terlalu detail, pembaca tidak lagi diajak terlibat, mereka hanya seperti disuapi informasi. Alhasil cerita menjadi terasa datar meski katanya sangat dalam.
Baca juga : Cara Bikin Cerita Unik Tanpa Merusak Alur
2. Emosi Lebih Kuat Jika Tokohnya Hidup (Show, Don’t Tell)

Emosi paling kuat sering muncul dari tindakan kecil dan dialog, bukan dari penjelasan narasi panjang lebar.
Coba perhatikan perbedaannya lewat contoh karakter bernama Arga di bawah ini:
Versi Narasi (Telling):
“Arga adalah orang yang sangat congkak dan sombong. Dia memandang rendah orang lain dan selalu merasa dirinya paling unggul. Dalam setiap situasi, dia menempatkan dirinya di atas siapa pun.”
Terasa biasa saja, kan? Sekarang bandingkan dengan versi ini:
Versi Dialog & Aksi (Showing):
“Menurutku rencana ini masih bisa diperbaiki,” kata teman Arga.
Arga terkekeh pelan. “Diperbaiki? Kamu serius? Dengar, ya, kalau aku bilang ini sudah cukup, berarti memang sudah. Kalau kamu bisa mikir sejauh aku, kamu nggak akan nanya ataupun ragu. Ikuti saja. Kalau gagal, itu pasti karena kalian nggak sanggup ngimbangin caraku.”
Terasa perbedaannya bukan?
Saat emosi dijelaskan panjang lebar melalui narasi, efeknya justru melemah. Ucapan dan tindakan lebih bisa membuat pembaca ikut merasakan emosi dalam cerita.
3. Ritme Cerita Menjadi Lambat
Narasi yang terlalu banyak memperlambat alur. Cerita seakan berjalan di tempat karena penulis lebih sibuk menjelaskan daripada menggerakkan peristiwa.
Pembaca yang awalnya tertarik bisa kehilangan fokus karena merasa tidak ada kemajuan dalam cerita.
4. Karakter Kehilangan Kesempatan “Berbicara”
Jika semua disampaikan lewat narasi, karakter jarang menunjukkan diri mereka melalui dialog dan tindakan.
Padahal, karakter yang hidup adalah karakter yang bisa terlihat dari caranya bertindak, bereaksi, dan memilih. Terlalu banyak narasi membuat karakter terasa seperti bayangan, bukan manusia yang hidup .
5. Cerita Terasa Seperti Laporan, Bukan Pengalaman

Fiksi seharusnya menjadi pengalaman, bukan laporan. Ketika narasi mendominasi, cerita berubah menjadi rangkuman kejadian, bukan momen yang bisa dirasakan. Pembaca tidak diajak masuk ke dalam adegan, mereka hanya diberi tahu apa yang terjadi.
Lalu, Solusinya Apa?
Bukan berarti narasi itu salah. Narasi tetap penting, tapi perlu digunakan dengan sadar.
Beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Gunakan narasi untuk world building: Gunakan narasi untuk menguatkan atau membentuk peraturan dunia jika diperlukan, bukan menggantikan adegan.
- Biarkan emosi muncul lewat aksi: Jangan jelaskan dia marah, tapi tunjukkan dia membanting pintu.
- Potong penjelasan berlebih: Hapus narasi yang tidak mendorong alur atau menggerakkan cerita.
Ingat, menulis bukan soal seberapa banyak kata yang bisa kita jelaskan, tapi seberapa kuat cerita itu bisa dirasakan. Nggak jarang satu kalimat yang tepat jauh lebih bermakna daripada satu paragraf penjelasan .
Ingin tahu lebih banyak lagi tentang teknik menulis cerita fiksi? Gabung aja di Komunitas Penulis Online Produktif di sini.
