Table of Contents
Happy Mother’s Day, Sobat Pena!
Tanggal 22 Desember ini bukan cuma soal posting foto bareng Ibu di Instagram pakai caption puitis, ya. Hari ini adalah momen emas buat kita—para ibu, calon ibu, atau siapa pun yang peduli sama masa depan bocil-bocil penerus bangsa—buat rethink ulang peran kita.
Jujurly, di era gempuran digital dan persaingan masuk SD yang makin savage, banyak ibu yang terjebak mode panik. Tiba-tiba berubah jadi “guru killer” yang maksa anak hafal abjad A-Z atau hitungan 1-100 secara mekanistik biar dibilang pinter.
Padahal, riset membuktikan kalau literasi itu JAUH lebih luas dari sekadar calistung (baca, tulis, hitung) yang kaku. Literasi dini adalah fondasi untuk navigasi kehidupan masa depan.
Nah, berdasarkan riset komprehensif tentang Dinamika Peran Ibu dalam Literasi Anak Usia Dini, ternyata peran ibu itu udah kayak arsitek otak anak.
Penasaran? Yuk, kita bedah sambil ngeteh cantik.
1. Mentoring vs Teaching: Stop Jadi “Guru Bor”, Mulailah Mendampingi
Banyak dari kita yang kena mental kalau lihat anak tetangga udah bisa baca di umur 4 tahun. Akhirnya, kita nge-gas ngajarin anak (Teaching) dengan metode drilling yang bikin stres.
Padahal bestie, data menunjukkan kalau peran ibu yang paling dominan dan efektif itu justru Mentoring (58%), bukan Teaching (51%).
Apa bedanya?
- Teaching: Fokusnya instruksi teknis (“Ini huruf A!”, “Pegang pensilnya gini!”).
- Mentoring: Fokusnya interaksi emosional dan suportif (“Wah, gajahnya besar, ya, telinganya lebar kayak apa, Dek?”).
Interaksi hangat inilah yang bikin otak anak spark joy dan ngebangun motivasi intrinsik (self-efficacy) mereka. Jadi, posisikan dirimu sebagai mitra senior yang asyik, bukan guru yang serba tahu.
Baca juga : Peluang Jadi Penulis Online
2. Fakta Riset Ibu Bekerja: Benarkah Anak Jadi Terlantar?

Ini nih mitos yang sering bikin mom-war. “Ah, ibunya kerja mulu, pantes anaknya nggak keurus.”
Eits, tahan jempolmu! Studi statistik terhadap ibu-ibu dosen menunjukkan fakta yang mengejutkan: ada korelasi positif yang cukup kuat (0,512) antara ibu bekerja dengan tumbuh kembang anak.
Kualitas Interaksi Lebih Penting daripada Kuantitas
Kok bisa ibu bekerja justru punya anak yang perkembangannya bagus? Kuncinya ada di Manajemen Waktu dan Kualitas Interaksi.
Ibu bekerja cenderung lebih disiplin mengalokasikan quality time. Momen-momen rutin seperti makan (21%) dan tidur (48%) dimanfaatkan secara optimal untuk bonding dan dongeng, bukan sambil main HP.
Jadi buat working moms, please stop feeling guilty. Data membuktikan kalian keren!.
3. The Power of Modelling: Masalah Kita Rajin Nyuruh tapi Males Contohin
Nah, ini tamparan keras buat kita semua. Data riset nunjukin kalau peran Modelling (keteladanan) skornya masih rendah, cuma 47%.
Teori Albert Bandura bilang anak itu peniru ulung. Kita teriak-teriak nyuruh anak baca buku, tapi kita sendiri asyik scrolling TikTok atau IG (phubbing) di depan mereka. Pesan yang nyampe ke anak simpel: “Oh, HP lebih asik daripada buku.”
Solusinya? Walk the talk. Ibu harus terlihat membaca koran atau buku sendiri, biar anak menganggap membaca adalah kegiatan normal orang dewasa.
4. Literasi Digital Dini: Ibu Sebagai Mediator Teknologi
Hari gini ngelarang anak pegang HP total? Susah, Bos. Tantangan ibu zaman now adalah menjadi mediator teknologi. Jangan biarkan gawai jadi “pengasuh digital” yang bikin anak telat bicara (speech delay).
Ada dua cara mediasi yang bisa kamu lakukan:
- Mediasi Restriktif: Bikin aturan batas waktu (screen time) dan lokasi yang jelas. Sepakati bareng anak.
- Mediasi Aktif: Temenin anak nonton, ajak diskusi soal kontennya, dan jelaskan nilai-nilainya. Ubah pengalaman pasif jadi aktif.
5. Metode Read Aloud: Cara Paling Ampuh Bangun Literasi

Buat yang bingung mulainya gimana, cara paling powerful, murah meriah, dan paling direkomendasikan riset adalah Membaca Nyaring (Read Aloud).
Metode ini terbukti mencegah kesenjangan kosakata (word gap) dan melatih pemahaman narasi anak sejak dini.
Tips Membaca Nyaring agar Tidak Membosankan
Tapi inget, jangan cuma baca datar kayak robot. Harus interaktif (dialogic reading)!.
- Bertanya: “Menurut Adik, kenapa kancil lari?”.
- Meminta Prediksi: “Kira-kira apa yang terjadi setelah ini?”.
- Koneksi: Hubungkan cerita dengan pengalaman nyata anak.
Kesimpulan: Peran Ibu dalam Literasi Anak adalah Kunci Emas Masa Depan Anak
Sobat Pena, data statistik nggak bisa bohong. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap kemampuan literasi anak itu skor korelasinya ngeri banget, 0.993!.
Angka ini jauh lebih tinggi daripada pengaruh program literasi sekolah yang cuma 0.550. Artinya? Sekolah sebagus apa pun nggak bakal ngefek maksimal kalau peran Ibu di rumah nggak jalan.
Jadi, di Hari Ibu ini, yuk kita ubah mindset. Literasi bukan soal anak bisa baca cepet-cepetan. Literasi bermula dari pangkuan Ibu, lewat suara Ibu, dan dari sanalah masa depan bangsa ditulis.
Selamat Hari Ibu untuk seluruh perempuan hebat Indonesia!
Referensi:
Artikel ini diolah dari Laporan Penelitian “Dinamika Peran Ibu dalam Ekosistem Literasi Anak Usia Dini” dari berbagai sumber, di antaranya:
https://bebeclub.co.id/artikel/tumbuh-kembang/3-tahun-atas/menumbuhkan-minat-baca-anak

Kualitas interaksi tentu lebih baik dibandingkan hanya sekadar kuantitas. Menjalin bonding dengan anak, baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga, idealnya anak diberikan contoh riil, bukan hanya bicara atau menyuruh saja. TfS artikelnya menarik sekali.
Peran ibu di literasi itu krusial banget. Kebiasaan kecil di rumah ternyata bisa berdampak besar ke cara anak berpikir dan belajar
Nah betul banget momentum hari Ibu jadi refleksi buat para Ibu dan seluruh orangtua untuk lebih aktif dan inovatif dalam meningkatkan minat baca hingga literasi pada anak. Semoga saja ya, setiap orangtua semakin bijak dan membiasakan diri baca nyaring dan ajak anak diskusi sedari masih balita. Serta menjadi contoh suka literasi juga.
Sebagai seorang ibu, saya memang merasakan kalau rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Membacakan nyaring sebelum tidur memang kelihatan sederhana, tapi dampaknya luar biasa untuk bonding dan kosakata mereka. Saya sellau melakukannya menjelang tidur ketika anak-anak masih kecil.
Jujurly, poin tentang modelling itu tamparan halus buat saya. Sering banget nyuruh anak baca, tapi kitanya malah asyik scrolling TikTok di sebelahnya. Ternyata literasi itu memang bukan soal balapan calistung ya, tapi tentang membangun koneksi emosional lewat buku. Terima kasih sudah menyadarkan para Ibu untuk lebih fokus ke mentoring daripada jadi ‘guru killer’. Selamat Hari Ibu untuk kita semua!
Setuju banget kalau banyaknya waktu kebersamaan nggak selalu berbanding lurus sama kualitas yang ada. Seringkali, mereka yang waktunya terbatas justru punya bonding yang maksimal karena disela-sela keterbatasan waktunya orang tua lebih banyak mendengar anak. 🙂
Peran ibu sangat berpengaruh hingga anak tumbuh besar dan menjadi dewasa. Karakter anak sedikit banyak terbentuk karena hasil mentoring dan pendidikan ibu yang diterima sejak kecil.
Peran ibu dalam literasi anak memang terasa kuat saat dilakukan lewat kebiasaan sederhana seperti membaca bersama dan berdiskusi. Dampaknya bukan hanya ke kemampuan baca, tapi juga ke kedekatan emosional dan cara anak memahami dunia.