Pernah, nggak, sih, kamu merasa overthinking melihat kondisi dunia penulisan sekarang? Di satu sisi, orang bilang minat baca makin rendah karena semua orang lebih suka scroll TikTok. Di sisi lain, AI (Artificial Intelligence) makin canggih—bisa nulis cerpen, puisi, bahkan novel dalam hitungan menit.

Rasanya wajar kalau kamu bertanya-tanya: “Masih ada, nggak, sih, tempat buat penulis manusia? Atau mimpi jadi penulis online cuma angan-angan kosong?”

Tenang, Genks. Sebelum kamu mutusin buat gantung pena (atau gantung keyboard), mari kita bedah realitanya pakai kepala dingin. Jawabannya mungkin bakal bikin kamu kaget.

Baca juga : Pilih Fiksi atau Non-Fiksi bagi Penulis Pemula

Realita Pahit: Minat Baca Rendah & “Monster” Bernama AI

Kita nggak bisa tutup mata. Tantangan itu nyata.

Pertama, soal minat baca. Kamu pasti sering denger statistik horor yang bilang “minat baca orang Indonesia cuma 0,001%”. Katanya, dari 1.000 orang, cuma 1 yang rajin baca. Serem banget, kan?

Tapi tunggu dulu, fakta di lapangan ternyata lebih rumit (dan menarik!) dari itu.

Data dari Perpusnas (TGM) justru menunjukkan kalau kegemaran membaca kita NAIK dari skor 59,52 (2021) ke 66,70 (2023). Kok bisa beda?

Jawabannya adalah pergeseran. Kita bukan malas baca, tapi kita pindah “lapak”. Kita beralih dari baca buku tebal ke baca caption IG, utas Twitter, dan novel online di HP. Minat konsumsi informasi kita tinggi, tapi durasinya pendek-pendek (skimming).

Ini peluang emas buat penulis online! Pembaca itu ADA, tapi mereka butuh konten yang pas sama kebiasaan baru mereka.

Tantangan kedua, soal AI. Mesin ini memang gila. Kalau manusia butuh 30-60 menit untuk nulis 1.000 kata, AI bisa kelar kurang dari lima menit. Skor PISA 2022 kita yang turun ke level terendah (359 poin) juga nunjukin kalau kemampuan berpikir kritis anak muda lagi diuji banget.

Banyak penulis yang mulai insecure, takut digantiin robot. Tapi, sejarah punya pelajaran menarik buat kita.

Belajar dari Sejarah: Tersingkir atau Berevolusi?

peluang jadi penulis online untuk berevolusi

Ketakutan profesi akan digantikan mesin itu bukan hal baru.

  • Era Mesin Cetak (Abad 15): Dulu ada profesi penyalin naskah (scribe). Saat mesin cetak ditemukan, profesi mereka punah. Tapi apakah penulis punah? Tidak. Justru buku makin mudah diakses dan literasi meledak.
  • Era Desain Grafis Digital: Dulu ilustrator manual panik saat muncul CorelDraw dan Photoshop. Mereka yang menolak belajar software akhirnya tenggelam. Tapi mereka yang adaptif justru makin berjaya karena kerjanya jadi lebih cepat dan variatif.

Sekarang di era AI, polanya sama. Penulis yang hanya bisa menyalin atau membuat tulisan generik (standar) memang berisiko besar tersingkir. Tapi penulis yang mau berevolusi? Mereka justru akan menemukan panggung baru.

Harapan Itu Masih Ada

Kenapa AI nggak akan bisa menggantikan penulis manusia sepenuhnya? Karena ada “ruang kosong” yang nggak bisa diisi oleh algoritma, apalagi di tengah krisis kompetensi literasi saat ini:

1. Tulisan Manusia Punya “Jiwa”

AI bisa membuat kalimat yang rapi, tapi seringkali terasa hambar. Tulisan manusia punya emosi, keresahan, dan pengalaman hidup yang unik. Di tengah gempuran konten AI yang “sempurna tapi kaku”, pembaca justru makin haus sama tulisan yang jujur, relatable, dan “manusia banget”.

2. Pembaca Butuh Koneksi, Bukan Cuma Informasi

Sekarang, menjadi penulis bukan cuma soal jualan buku, tapi membangun hubungan. AI bisa bikin teks, tapi dia nggak bisa jadi role model atau teman curhat bagi pembaca. Pembaca setia mengikuti penulis karena kepribadian dan personal brand-nya, sesuatu yang nggak dimiliki robot.

3. Solusi untuk “Krisis Kompetensi”

Ingat data PISA tadi? Kemampuan membaca mendalam (deep reading) kita lagi rendah. Ini artinya, pembaca butuh penulis yang bisa menjembatani kesenjangan itu. Penulis yang bisa menyajikan ide kompleks dengan bahasa yang renyah, mudah dicerna, tapi tetap berbobot. AI seringkali gagal di sini karena nggak punya empati sama pembaca.

Strategi Bertahan: Cara “Mencuri Panggung” di Era AI

Supaya kamu nggak jadi penonton doang, ini strategi konkret biar kamu tetap relevan dan stand out:

  • Perkuat Fundamental Menulis: Jangan bangga dengan skill nulis dadakan (tahu bulat style). ChatGPT bakal ngetawain kamu. Pelajari struktur plot, character development, dan cara bikin twist yang logis. Ini fondasi yang bikin karyamu beda dari tulisan “pabrikan” AI.
  • Jadikan AI Partner, Bukan Musuh: Gunakan AI untuk hal teknis kayak brainstorming ide, cek grammar, atau bikin kerangka. Tapi eksekusi rasa, emosi, dan sentuhan akhirnya tetap harus dari tangan manusiamu.
  • Bangun Personal Brand: Jangan cuma sembunyi di balik naskah. Munculkan dirimu di media sosial. Biarkan pembaca mengenal siapa sosok di balik cerita itu.
  • Eksplorasi Media Baru: Jangan kaku cuma mau nulis buku fisik. Coba format baru seperti storytelling di podcast, utas Twitter/X, atau naskah konten TikTok. Ingat, TGM (Tingkat Kegemaran Membaca) kita naik karena konsumsi digital. Masuklah ke sana!

Kesimpulan: Pilihan Ada di Tanganmu

pilihan untuk peluang jadi penulis online

Pada akhirnya, nasib penulis di era ini bergantung pada pilihan kita sendiri: mau jadi skeptis yang menolak perubahan (dan akhirnya punah), atau mau jadi penulis adaptif yang memanfaatkan teknologi buat melesat lebih jauh?

Peluang itu masih terbuka lebar buat mereka yang mau belajar fundamental dan punya author voice yang unik. Jadi, daripada overthinking, mending mulai upskilling sekarang!

Siap buat berevolusi jadi penulis tahan banting? Yuk, gabung dan belajar bareng di komunitas penulis yang suportif biar kamu nggak sendirian menghadapi era AI ini! Klik di sini.


Referensi :

https://www.komdigi.go.id/berita/sorotan-media/detail/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos

Penulis Asfar Asfahan

Asfar Asfahan

Bukan cuma 'teori'. Asfar beneran udah ngerasain struggle-nya: dari nge-blog 3 tahun di WordPress, 'pemanasan' nulis nonfiksi di buku antologi, sampai akhirnya jadi novelis di Litera. Artikel ini adalah spill jujur dari perjalanannya upskill gila-gilaan. Kalau lagi nggak nulis di sini, dia lagi ngejar deadline bab terbarunya.

34 Comments

  1. Peluang jadi penulis online sekarang memang luas banget. Dari artikel ini kerasa kalau dunia kepenulisan itu bukan cuma soal bakat, tapi konsistensi, relasi, dan mau belajar terus. Insight-nya membantu banget, terutama bagian tentang platform dan cara mulai yang realistis.

  2. Meski AI makin gila dan minat baca berubah bentuk, tetap kerasa kalau tulisan manusia punya “rasa” yang nggak bisa ditiru mesin

  3. Peluang itu akan selalu ada, namun tergantung bagaimana kita melihatnya~
    Minat baca ternyata masih tinggi, ya? Bahkan naik? Aku juga baru tau ini. Ya walaupun bacanya dibalut dalam kemasan baca caption di sosial media maupun bacaan digital lainnya.

    Keinget juga, beberapa teman nulis cerpennya melalui post instagram. Dan itu banyak yang like dan komen.
    Jadi sekarang, kalau mau jadi penulis itu malah punya banyak cara dan jalannya yak?

  4. Kita memang ga bisa menolak perubahan di zaman sekarang. Kecanggihan teknologi pun harus kita terima dan gunakan seoptimal mungkin untuk memudahkan pekerjaan. Menjadi penulis buku, blog, socmed dll insya allah karier akan tetap ada. Yang penting konsisten, rajin dan mau meningkatkan value. Makasih sharing-nya mas 👍🙏

  5. Menjadikan Ai sebagai partner adalah suatu keniscayaan saat ini dalam menulis. Setiap ide yang kita dapat kemudian dibuat kerangka artikel yang pas kemudian dikolaborasikan dengan AI adalah pilihan.

  6. Minat ah gabung sama wag komunitas nya
    Semoga bisa jadi jalan kita menuju penulis tahan banting
    Sepinya jon dari ngeblog sempat bikin kehilangan kepercayaan diri, tapi baca artikel ini jadi makin semangat lagi untuk konsisten menulis nih

    • Penulis Asfar Asfahan Asfar Asfahan

      Monggo, ditunggu di WAG yang siap menyambut member baru dengan tari hula-hula;)

  7. Setuju banget, kalau tulisan asli manusia lebih punya jiwa. Jujur aku juga salah satu yang memanfaatkan AI, tapi bukan karya hasilnya dia, melainkan suka aku aja brainstorming tentang ide2 menarik apa yang ok dijadikan tulisan.
    Kadang juga ovt sama yang terima job dengan rate rendah, sehingga kyk ngrusak pasaran tapi nulisnya pakai AI.
    Cuma aku tetep percaya, rezeki tak ke mana, begitu pula soal tulisan2 pasti akan menemukan pembeli jasanya/ pembacanya.

  8. Setuju,satu sisi AI ini teman dan satu sisi lagi kalau pemanfaatannya nggak bijak jadi lawan. Aku jadi inget salah satu novel yang kubaca tentang pencuri buku dan kalau ditarik garis dari pas masa awal² buku beredar, posisi AI dan dunia perbukuan tuh kurang lebih sama. Jadi semua balik lagi apakah manusia ini memanusiakan mesin atau kita menjadikan mesin ini manusia. 🤪

  9. Oktavida Yasmin

    informasinya sangat berguna, terutama bagian tentang keuntungan dan peluang jadi penulis. terima kasih sudah sharing!

  10. Yap! peluang akan terus ada selama kita mampu beradaptasi dengan yang sekarang dan tetap saja di era gempuran AI orisinalitas dan karya sendiri itu tetap juara!

  11. Menarik banget jadi penulis online bisa buka peluang baru mana kerjanya fleksibel, nulis kapan aja, dan tetap dapet penghasilan. Cocok banget buat yang suka nulis dan pengen kebebasan waktu sih ini.

    • Penulis Asfar Asfahan Asfar Asfahan

      Exactly, itu adalah pilihan mahal dalam waktu kita yang sempit ini.

  12. Artikelnya informatif banget! Jadi makin semangat coba peluang jadi penulis online. Makasih sudah berbagi!

  13. Artikelnya sangat memotivasi! Menjadi penulis online memang punya peluang besar di era digital. Tips yang diberikan sederhana tapi berguna untuk pemula yang ingin mulai menghasilkan dari menulis.

    • Penulis Asfar Asfahan Asfar Asfahan

      Twencuu …, semoga menjadi bara yang tetap membakar semangat kita buat jadi penulis online ya, kak!

  14. Magfirah

    Walaupun aku juga pengguna AI bgtt tapi emang tulisan manusia gabis disamain sama AI sihhh benerr yaa , thanks udah sharing kakk bener bener jadi reminder buat aku untuk rajin baca dan nulis lagii

    • Penulis Asfar Asfahan Asfar Asfahan

      Micami, kita sama-sama bertumbuh dengan ilmu kepenulisan online ini ya, kak.

  15. bener banget, banyak perbedaannya antara tulisan buatan manusia dan AI, tulisan manusia biasanya lebih berisi dan juga bisa dirasakan oleh pembacanyaa… ini pokoknya artikelnya sangat baguss buat pemahaman kita

  16. Alma Tri Damayanti

    Keren banget artikelnya!! bikin saya jadi mikir, “Hmm, boleh juga nih coba jadi penulis online!” Menurut saya, infonya pas banget buat yang pengen coba-coba nulis online dan fleksibilitasnya bikin makin tertarik.

    • Penulis Asfar Asfahan Asfar Asfahan

      Yuk, coba dari sekarang dengan ikut komunitas penulis online produktif (KPOP)

  17. Apakah AI bisa menggantikan Manusia di masa depan? Hal ini masih akan terus bisa didebatkan sih.

    • Penulis Asfar Asfahan Asfar Asfahan

      Menurutku, gada yang benar-benar sempurna menggantikan peran manusia, sentuhan manusia masih diperlukan dengan porsi yang berbeda-beda

  18. Menurut saya dengan adanya AI, penulis harusnya bisa beradaptasi mengeksplor cerita cerita baru atau hal hal baru yang dapat menarik minat

  19. Pembahasannya sangat realistis, terutama ide untuk menjadikan AI sebagai partner, bukan musuh.

  20. Raflie Syahadlie Prayoga

    Tulisan yang yang memperluas wawasan sekaligus memantik inspirasi untuk konsisten menulis. Terima kasih.

  21. Rani Azahra

    jadi kebuka bahwa jadi penulis online bisa jadi peluang nyata, apalagi di era digital sekarang. Enak ya, bisa kerja fleksibel, menuangkan ide, dan dapet penghasilan sambil di rumah. Semoga banyak yang termotivasi dan mulai nulis juga!

  22. Haykel Habibie Algifari

    Yang paling kusuka adalah ide bahwa tulisan “manusia” punya jiwa dan nilai lebih bukan cuma soal konten, tapi soal emosi, pengalaman, dan koneksi dengan pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *