Table of Contents
Ngerasa mentok jadi blogger? Konten udah rilis, traffic ada, tapi rasanya gitu-gitu aja? Pengen nulis ‘sesuatu’ yang lebih panjang dan mendalam, kayak novel online, tapi bingung … pilih Fiksi atau Non fiksi?
Percaya, deh, aku pernah di posisimu. Tiga tahun aku nge-blog soal apa aja (Gado-gado) di WordPress, ngerasain hal yang sama persis.
Di artikel ini, kita nggak cuma nge-list plus-minus. Kita akan bedah tuntas step-by-step pengalamanku pivot dari blogger, ‘pemanasan’ nulis buku antologi self-improvement (nonfiksi), sampai akhirnya ‘nekat’ terjun ke Fiksi di platform kayak Gramedia Writing Project (GWP), KBM, dan Fizzo.
Tujuannya? Biar kamu dapat shortcut dan gak ‘salah start’ kayak aku dulu.
Baca juga : Nasib Penulis Fiksi di Era Ai
Modal Awal Si Paling Blogger

Di tahun 2021 saat pandemi melanda, aku mulai memperdalam lagi ilmu Web Desainku. Gak tau kenapa, aku jatuh hati banget sama WordPress dibanding Blogspot. Dengan bermodal cuan seadanya, aku bisa beli domain dan hosting sendiri.
Niat awalnya cuma buat sarana belajar aja, tapi lama-lama, kok, asyik juga bikin artikel di blog pribadi. Waktu itu tulisanku masih Acakadut gak terarah, trus gabung sama komunitas Blogger.
Di sana aku baru tau cara Monetize Blog dengan berbagai sekte. Diantaranya adalah Google Adsense, Affiliate, dan juga Jasa Backlink artikel. Semua udah aku coba, tapi hasilnya cuma dapet “Recehan”.
Lelah karena buat artikel blog nggak bisa nutupin biaya sewa hosting dan domain. Tapi di titik lelah itulah aku sadar: Aku benci hasilnya, tapi jatuh cinta sama proses nulisnya.
Dan meskipun ‘receh’, 3 tahun di WordPress itu ternyata ngasih aku 3 modal mahal yang nggak aku sadari. Modal inilah yang jadi shortcut-ku buat pivot ke dunia novel.
1. Mental Konsistensi
Ngejar jadwal posting blog itu sama persis kayak pressure nulis novel serial di platform yang minta update tiap hari. Mental kita udah terlatih.
2. Skill Riset
Skill riset keyword dan tren di blog itu = skill riset pasar buat nentuin plot novel yang laku dan disukai pembaca.
3. Kebal Banting
Udah kebal sama komentar pedas atau spam di blog. Ini mental baja yang kepakai banget buat nerima review pembaca novel yang kadang bisa lebih ‘brutal’.
Nah, setelah sadar punya 3 modal tadi, aku pun siap ‘naik level’. Akhirnya aku melirik genre penulisan lain, yaitu nulis buku cetak (antologi). Di sinilah battle sebenernya dimulai …
Battle Dimulai: Pilih Fiksi atau Non Fiksi

Jalur Non Fiksi (Si Paling Logis & Terstruktur)
Jalur Nonfiksi adalah pilihan pivot yang paling “aman” atau familiar bagi seorang blogger. Ini adalah arena di mana kamu ‘bertarung’ menggunakan data, riset, fakta, dan pengalaman nyata, alih-alih imajinasi liar.
Pindah jalur dari artikel blog ke penulisan buku antologi, punya dampak yang besar buat mengembangkan skill penulisanku. Ini adalah pivot pertamaku. Tadinya cuma Free Writing, tapi saat join proyek penulisan buku antologi, tulisanku makin terarah.
Mulai dari Mind Mapping sampai struktur bahasa sesuai EYD, aku telan utuh untuk menghasilkan karya sastra dalam bentuk buku. Pada akhirnya, dahagaku terpuaskan saat melihat 2 buku antologiku (keduanya tema self-improvement) menghiasi rak buku kecil di sudut kamar.
Tapi, itupun belum cukup. Aku ingin menulis yang lebih panjang dari sekedar antologi. Menulis novel adalah impianku sejak dulu.
Jalur Fiksi (Si Paling Liar & Emosional)
Jalur Fiksi adalah ‘lompatan besar’. Ini adalah arena yang butuh skillset yang nyaris baru total, di mana imajinasi, emosi, plotting, dan karakterisasi adalah segalanya.
Saat pertama kali memutuskan untuk terjun sebagai novelis, aku membuat target untuk masuk ke penerbit mayor seperti Gramedia. Mulai dari buat naskah sampai 40 Bab sesuai standar penerbitan udah aku lakukan, tapi belum berhasil menembus pertahanan si Mayor.
Akhirnya aku masukkan aja naskah itu ke Platform GWP, berharap dilirik sama Editor. Novel pertamaku itu memang murni kutulis tanpa kaidah penulisan novel online yang benar.
Rahasia Pivot Sukses: Sadar Skill Gap & Jangan Malas “Upskill”
Kenapa aku bilang ‘tanpa kaidah yang benar’?
Karena aku baru tau, ada perbedaan yang tajam antara penulisan novel cetak (yang aku targetin dulu) dan novel online (yang pasarnya booming), setelah aku ‘terdampar’ di satu Komunitas Penulis Online Produktif (KPOP) tempat aku bernaung sekarang.
Di sini aku belajar dari Mastah sekaligus Founder-nya, yaitu Kak Lisandi Noera yang karyanya udah seabrek memenuhi beranda berbagai Platform Novel Online.
Aku belajar Mindset, cara bikin Penggerak Cerita, World Building, Perbedaan Genre, dan semua ‘ilmu putih’ dunia novel online yang nggak pernah aku dapatkan sebagai blogger nonfiksi.
Gak sampe disitu aja, aku juga dipercaya untuk membangun Learning Management System (LMS) bersamanya, pada web kelas dari Ruang Pena Cendekia. Lucunya? Aku bisa ngerjain ini berbekal pengetahuanku sebagai Blogger WordPress dulu.
See? Skill lama itu nggak ada yang sia-sia!
Terus, Biar Gak Salah Start Gimana?
Biar gak salah start, coba ngaca dulu: Kamu blogger tipe apa?
Pilih Tim Non Fiksi (The ‘Safe Pivot’) jika kamu …
Blogger how-to, review (gadget, buku), finance, parenting, atau self-improvement. Kontenmu udah based on riset dan solusi. Kamu tinggal ubah formatnya jadi e-book berseri atau buku nonfiksi yang lebih mendalam. Skill blog-mu 80% kepakai.
Pilih Tim Fiksi (The ‘Brave Jump’) jika kamu …
Blogger travelogue (yang puitis), diary (curhat), food blogger (yang deskriptif), atau lifestyle (yang suka cerita). Kamu udah punya bakat storytelling emosional. Tapi, kamu WAJIB upskill teknis (plot, karakter, dialog) biar bisa bersaing di platform novel.
Kesimpulan: Jadi, Kamu Tim Mana?
Gak ada pilihan yang ‘salah’.
Nonfiksi adalah ‘jembatan aman’ yang memanfaatkan skill riset blogmu. Fiksi adalah ‘lompatan besar’ yang memanfaatkan skill storytelling-mu tapi butuh upskill teknis lebih banyak.
Saran terakhirku? Gak harus pilih salah satu. Kamu bisa kayak aku: mulai dari blog, ‘pemanasan’ di nonfiksi, sambil ‘nge-gym‘ skill fiksi lewat kursus, lalu ‘lari maraton’ di platform novel.
Yang penting, jangan berhenti belajar.
Gimana, udah dapat gambaran? Coba spill di komentar, kamu lebih tertarik pivot ke mana? pilih Fiksi atau Non fiksi? Dan kenapa?
Oiya, kalo kamu mau upgrade skill nulis kamu khususnya di penulisan novel online, boleh gabung ke komunitas kita di KPOP, yah! Aku tunggu di grup obrolan yang gak hanya ngebahas penulisan online, tapi juga konspirasi global. Hehe …

Aku dulu mulai nulis dari fiksi, tapi lama-lama nyoba non-fiksi juga. Ternyata dua-duanya punya tantangan dan kepuasan yang beda banget
Bener, Kak. Sekali aku nyemplung sebagai Blogger, maka aku terus menjelajahi dunia penulisan online lainnya. Termasuk fiksi, dengan menulis novel online.
Kayaknya non fiksi aja ahahaha 😀 Tergantung deh sama tipe orangnya. Kalau bisa dan pandai mengkhayal, tentu cerita fiksi. Tapi kalau senang dengan pengalaman hidup dll pilih non fisksi. Sebagai blogger yang senang mengulas hal2 riil kalau aku sih non fiksi teteup. Tapi aku masih menulis buku (kontributor saja) selain nulis di blog. Yang penting happy2 ajalah.
Silakan …, Pilihan itu ada di tanganmu, kak! Stay Happy.
Non fiksi sepertinya menarik untuk dicoba dalam menulis karya pertama saya. Cuma yang menjadi pertanyaan “kapan?”….
Mulai nyicil aja bikin naskahnya, kak. Tapi jangan lupa “Upskill” untuk melompat lebih tinggi dalam dunia Non-Fiksi.
postingan ini relate banget! Seneng denger cerita pivot-nya dari blog gado-gado sampai akhirnya ‘nekat’ terjun ke Fiksi. Salut sama mentalitas ‘Kebal Banting’ dan Skill Riset yang ternyata jadi modal mahal itu. Bener-bener insightful buat yang lagi di persimpangan jalan ini.
Kayaknya aku lebih ke Tim Non Fiksi dulu deh (The Safe Pivot) buat pemanasan, soalnya basic blog udah sering riset how-to. Tapi, impian tetep ke Fiksi! Mau coba ikutan KPOP-nya buat upskill teknisnya. Makasih shortcut-nya, Kak
Ditunggu di Grup KPOP yang saat ini punya 2 kelas unggulan, Mas. Yaitu AIP dan ELP. Mulai dari angka 0 alias “Gretong”:)
Kalau pas baca buku, saya lebih suka yang fiksi. Tapi kalau harus menulis kisah fiksi sendiri, koq sulit yaaa ternyata hehehee… Butuh imajinasi yang lebih ‘menari-nari”.
Aku aja awalnya gak yakin bisa nulis fiksi, tapi seiring bertumbuh di komunitas-fantasiku semakin terasah.
Wah keren banget mas, dari ngeblog kemudian sekarang manteb di jalur menulis novel fiksi di berbagai plkatform. Aku pun sekarang juga merasa mentok menjadi blogger pengen keluar zona nyaman juga. Nggak instan juga nih ya, melalui kursus2 dan pelatihan juga ya?
Emang kebiasaan nulis di blog itu mempengaruhi banget terhadap kemampuan menulis kita ya, salah satunya dalam menulis fiksi.
BTW platform GWP ini termasuk baru aku denger, selama ini taunya cuma KBM hehe, thanks infonya 😀
.
Ada satu Platform yang insyaallah bentar lagi akan laungching di Play Store. Namanya “Litera”. Dan PF ini adalah salah satu besutan sang Founder KPOP. Kalo mau ikut nulis disini boleh banget, sambil menyelami dunia Fiksi yang tak bertepi.
Kalau saya justru kebalikannya. Daro bikin buku nonfiksi cetak, kemudian tertarik jadi bloger
Konsistensi memang salah satu kunci utama yang kerap diabaikan. Banyak penulis semangat tinggi di awal, tapi kemudian menurun. Bahkan berhenti menulis karena tidak konsisten. Padahal mau itu memilih fiksi atau non fiksi, sama-sama harus komitmen dan konsisten.
Setelah membaca pengalaman ini, saya langsung tergerak buat kembali belajar nulis cerpen, mungkin novel jika ada waktu lebih lagi. Bener adanya saya pun jatuh cinta sama WordPress dan berproses menulis di blog itu sangat menyenangkan serta mempertemukan saya dengan para blogger keren dan inspiratif.
Terima kasih sharingnya, sangat insightful sekali.
Aku pribadi suka dua² karena di dua sisi baik fiksi dan non-fiksi menulisnya tuh saling melengkapi. Tapi kalau ngomongin awal, dulu sekali aku nulis dari non fiksi dulu kali ya (skripsi, makalah, jurnal, majalah jurusan) di sini tuh aku tahu bahwa nulis nggak sekedar “dear diary” dan ketika sampai ke pembaca luar, pesan²nya harus sampai, harus jelas dan urutannya jelas.
Back ke delapan tahun lalu, aku coba nulis kembali lewat blog dengan metode non-fiksi, pelan-pelan belajar lagi banyak gaya² penulisan lewat sastra² yang pernah kubaca. Dan ketika akhirnya nerapin ke fiksi, gaya² non-fiksi itu tidak hilang hanya termodifikasi.
Jadi ketika milih yang mana dulu, jawabannya: mana yang sesuai minat. 🥰🥰
Aku pertama ngeblog nulis kaya diary, nulis fiksi juga.
Lalu belajar dan mulai mengidentifikasi, fokus menentukan arah, mengupgrade skill dan pengetahuan dan jadilah hari ini..
Blogger mungkin bukan main job tapi menjadi profesional blogger itu rasanya berbeda. Orang membaca yg kita tuliskan orangnjuga bisa membayar yg kita tuliskan. It’s so amazing
Setuju banget, pilihan antara fiksi atau non fiksi memang balik lagi ke karakter dan kenyamanan penulisnya. Yang penting mulai dulu aja, nanti bisa berkembang sambil jalan dan nemu gaya sendiri.