Table of Contents
Pertanyaan mengenai kriteria novel ideal dan apa yang dicari pembaca novel online sebenarnya sering kali berdengung di telinga para penulis. Jawabannya terdengar sederhana, tetapi pada praktiknya sering kali sangat sulit untuk dipenuhi di dalam naskah.
Apa, sih, yang sebenarnya dicari pembaca novel online? Seperti apa Novel Online Ideal itu?
Pertanyaan itu sampai ke telinga saya berkali-kali. Jawabannya selalu sederhana, tapi saya dapati ternyata sulit dipenuhi.
Banyak penulis berawal dari pembaca novel cetak. Bahkan, banyak penulis yang ternyata bukan pembaca. Tipe satu biasanya punya prinsip kuat yang sulit digoyahkan. Tipe kedua sayangnya harus dengan jujur saya bilang: sering “nggak tahu arah”.
Tapi masih ada kesamaan. Sering mereka mengira pembaca mencari bahasa yang indah, plot yang rumit, atau dunia fantasi yang sangat kompleks sebagai pelarian. Padahal dalam praktiknya, alasan seseorang terus membaca sebuah novel biasanya jauh lebih sederhana yaitu mereka ingin merasakan sesuatu.
Pembaca mencari rasa penasaran. Mereka ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Pembaca mencari emosi. Mereka ingin tertawa, marah, sedih, gemas, jatuh cinta, atau merasa puas ketika tokoh jahat menerima akibat dari perbuatannya.
Pembaca mencari pelarian. Setelah seharian bekerja, kuliah, atau menghadapi masalah hidup, mereka ingin masuk ke dunia lain selama beberapa saat.
Pembaca mencari harapan. Itulah mengapa genre seperti romansa, fantasi, atau cerita perjuangan selalu memiliki pasar besar. Banyak orang ingin melihat tokoh yang awalnya terpuruk lalu berhasil bangkit.
Jika diperhatikan, pembaca jarang berkata, “Aku lanjut baca karena struktur tiga babaknya bagus banget.”
Tetapi mereka sering bilang, “Aku nggak bisa berhenti baca karena novelnya bikin penasaran terus.”
Bisa juga mereka bilang, “Aku nangis bombay, njir, di bab itu.”
Atau, “Gemes banget dua PU-nya, chemistry-nya dapet, so sweet.”
Pembaca novel online mencari pengalaman emosional.
Baca juga: Cara Mengubah Fakta Menjadi Ide Novel
Kesalahan Pola Pikir Umum Pertama: Pembaca Dianggap Cuma Mau Konflik Receh
Ada kesalahpahaman yang sering terjadi di kalangan penulis. Mereka menganggap pembaca novel online cuma ingin cerita ringan. Padahal yang sebenarnya dicari pembaca adalah cerita yang membuat mereka “merasa”.
Konflik rumit itu bukan masalah, yang perlu ringan/sederhana adalah bahasanya. Sibuk menerka arti sebuah narasi berdiksi indah membuat pesan sulit tersampaikan. Nggak ada yang tersampaikan artinya nggak ada emosi yang digugah.
Ini juga menjelaskan mengapa banyak novel online dengan premis sederhana bisa sangat sukses. Bukan karena pembacanya nggak kritis, tetapi karena novel tersebut berhasil memenuhi kebutuhan emosional pembaca.
Di Litera sendiri, saya akan berargumen bahwa pembaca umumnya mencari 5 hal ini.
5 Hal Terpenting: Apa yang Dicari Pembaca Novel Online di Platform Litera?
1. Karakter yang membuat mereka peduli/berempati.
Karakter nggak perlu sempurna, tetapi karakter yang membuat mereka ingin tahu nasibnya. Masalah yang dihadapi harus “medok”, jangan setengah-setengah. Pembaca butuh merasa “kasihan” ke tokohnya. Karakter ini boleh dibuat terpuruk tapi dia juga harus menuju kebangkitan diri. Dia nggak harus menang instan, tapi dia perlu punya kemenangan-kemenangan kecil yang membuat pembaca tahu dia lagi berproses.
2. Konflik yang nggak itu-itu saja.
Selalu ada masalah yang harus diselesaikan atau tujuan yang ingin dicapai. Konflik jangan tunggal. Harus ada konflik utama (premis) dan konflik tambahan kecil-kecil. Konflik tambahan ini yang memberi kepuasan pembaca dengan kemenangan-kemenangan kecil sebelum akhirnya tokoh mencapai endingnya.
3. Perkembangan tiap bab.
Pembaca ingin melihat pergerakan. Tokoh miskin menjadi sukses, tokoh penakut menjadi berani, hubungan yang awalnya buruk menjadi romantis, dan sebagainya, progresnya harus ada tiap bab. nggak boleh berputa-putar.
4. Emosi.
Setiap kejadian perlu dibuat imersif agar emosi terbentuk. Tempo cepat bukan berarti narasi fragmented atau dibuat seluruhnya staccato.
5. Harapan atau fantasi.
Bahkan novel realisme sosial yang kelam tetap biasanya menawarkan secercah harapan, keadilan, atau makna.
Jadi, pembaca novel online nggak membeli kata-kata. Mereka membeli pengalaman emosional.
Kata-kata hanyalah kendaraan. Karakter, konflik, dan plot hanyalah alat. Yang mereka cari ketika membuka bab pertama dan terus lanjut hingga bab seratus adalah perasaan yang muncul selama perjalanan tersebut.
Dan penulis yang memahami hal ini biasanya jauh lebih mudah mempertahankan pembaca dibanding penulis yang hanya fokus pada teknik menulis semata.
Kesalahan Penulis: Mengkritik Novel Populer dengan Ego Defensif
Ketika sebuah novel online berhasil mendapatkan jutaan pembaca, nggak sedikit penulis yang justru merespons dengan skeptis.
“Cerita gini doang bisa laris.”
“Konfliknya receh.”
“Bahasanya biasa saja.”
“Karakternya nggak realistis.”
“EYD-nya berantakan.”
“Oh pantes, banyak adegan hot-nya.”
Komentar seperti ini cukup sering muncul ketika membahas novel populer. Sayangnya, banyak penulis berhenti sampai di sana. Mereka menemukan kekurangan sebuah karya lalu menganggap kekurangan tersebut sebagai bukti bahwa pembaca novel online memiliki selera rendahan, atau bahkan yang penting ada konten pornonya.
Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih menarik untuk diajukan: Jika novel itu memang nggak bagus dari segi plot, karakter, dan EYD, kenapa begitu banyak orang mau membacanya? Apa kelebihannya sehingga kesalahan yang begitu besar menjadi terampuni? Jika konten sensual adalah senjata utama, kenapa masih banyak novel populer yang pembacanya membludak padahal nggak ada adegan sensualnya (kalaupun ada, hanya sedikit dan nggak vulgar)?
Pertanyaan ini penting karena pembaca nggak menghabiskan puluhan jam membaca ratusan bab hanya karena mereka nggak menyadari adanya kesalahan EYD atau kelemahan teknis lainnya.
Mereka bertahan karena ada sesuatu yang berhasil diberikan oleh cerita tersebut.
Mungkin karakternya membuat mereka peduli. Mungkin konfliknya membuat mereka emosional. Mungkin cliffhanger-nya membuat mereka terus penasaran. Mungkin perjalanan tokohnya memberikan harapan.
Apa pun alasannya, ada kekuatan yang membuat pembaca rela melanjutkan membaca.
Kesimpulan
Salah satu kesalahan terbesar penulis adalah menganggap pembaca memilih novel dengan cara yang sama seperti guru mengoreksi tugas sekolah.
Seolah-olah pembaca membuka novel lalu memberi nilai untuk tata bahasa, struktur plot, atau ketepatan penggunaan tanda baca.
Kenyataannya, pembaca datang untuk mencari pengalaman. Mereka ingin tertawa. Mereka ingin menangis. Mereka ingin marah. Mereka ingin jatuh cinta pada karakter. Mereka ingin penasaran dengan kelanjutan cerita.
Karena itu, sebuah novel yang memiliki kekurangan teknis masih bisa sangat dicintai jika berhasil memberikan pengalaman emosional yang kuat.
Dan justru karena itulah banyak novel yang secara teknis nggak sempurna tetap mampu mendapatkan jutaan pembaca. Bukan karena pembaca menyukai kekurangannya, melainkan karena penulis berhasil memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu alasan untuk terus membaca.
Sekarang, coba buka lagi naskahmu. Jangan tanya, ‘Apakah bahasanya sudah indah?’ tapi tanyalah, ‘Apakah bab ini sudah memancing emosi?’ Kesampingkan ego sejenak, dan mulailah meracik konflik yang ‘medok’.
Ingin belajar cara memanipulasi emosi pembaca tanpa harus pusing memikirkan kata bersayap? Yuk, turunkan ego dan gabung bareng penulis lainnya di Komunitas Penulis Online Produktif (KPOP). Kita bedah naskah sampai tuntas! Klik di sini untuk bergabung secara Gratis!