Table of Contents
Mungkin kamu pernah mikir kalau tokoh utama itu harus selalu baik. Gak peduli gimana caranya, dia harus jadi tokoh yang paling terlihat perfect dalam pandangan pembaca.
Tapi, kenyataannya enggak. Di era sekarang, pembaca justru gampang jenuh kalau dikasih tokoh utama yang lempeng-lempeng aja.
Nah, biar bervariasi, kamu bisa coba ciptakan Bad Protagonist di ceritamu.
Emang gak semua penulis maupun pembaca suka sama karakter tokoh yang satu ini. Tapi … ada tips khusus yang bisa kamu praktekkan biar bad protagonist di ceritamu tetap diterima sama pembaca.
Sebelumnya, kita bahas dulu sedikit tentang bad protagonist, yuk!
Apa Itu Bad Protagonist?
Bad Protagonist bisa diartikan sebagai tokoh utama yang bermasalah. Dia gak terlihat baik seperti tokoh utama pada umumnya.
Meski begitu, dia bukan antagonis. Bad protagonist tetap jadi protagonis, hanya saja tingkah, keputusan, dan semua yang berhubungan sama dia gak selalu hal-hal baik.
Contoh: Michael Corleone dalam Serial The Godfather. Diceritakan, Michael awalnya seorang panglima perang terhormat yang gak mau terlibat dalam bisnis keluarga mafia. Tapi, dia terpaksa berubah jadi bos mafia kejam tanpa ampun, demi melindungi keluarganya dan memperkuat kekuasaan mereka.
Secara tujuan, tindakan Michael jelas jahat. Tapi, motif awalnya berhasil membuat penonton menaruh simpati besar sepanjang cerita diputar.
Baca juga : Macam-Macam Ending Novel
Kenapa Bad Protagonist Tetap Diterima?

Tokoh yang terlalu sempurna kadang malah buat pembaca merasa kurang terikat. Sebaliknya, tokoh dengan banyak kekurangan yang dilandasi motif kuat, justru buat mereka merasa dekat.
Ikatan emosional hadir dari kerealistisan yang melekat pada tokoh tersebut. Oleh karena itu, tokoh protagonis yang buruk tetap diterima meskipun tindakan-tindakannya gak diperbolehkan secara hukum dan moral.
4 Tips Menciptakan Bad Protagonist yang Memikat
Nah, buat menciptakan bad protagonist yang dicintai pembaca, kamu perlu pelajari tips-tips berikut:
1. Punya Alasan Kuat dan Masuk Akal
Kalau bad protagonist muncul atau diciptakan tanpa dilandasi motif yang jelas, pembaca bisa aja gak terima.
Sebaliknya, meskipun perbuatan tokoh gak dibenarkan secara moral, pembaca akan tetap bisa menerima kalau sebelumnya udah mengetahui motif atau alasan kejahatannya. Itu terjadi karena mereka udah terikat secara emosional.
2. Konsistensi Psikologis
Protagonis buruk boleh membuat kesalahan atau kejahatan berulang, tapi harus sesuai sama karakter, trauma, dan logika di awal.
Dia harus berjalan konsisten biar terasa hidup di hati pembaca, bukan sekadar alat pembuat konflik belaka.
3. Kesadaran (Self-Awareness)
Layaknya manusia pada umumnya, bad protagonist sesekali juga harus sadar akan kesalahan yang udah dia perbuat. Entah itu merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, atau kecewa pada dirinya sendiri.
Pada tahap ini, pembaca akan makin berempati sama tokoh, sehingga mereka gak akan rela buat melewati kisah tokoh tersebut.
4. Adanya Konsekuensi Nyata

Seperti di kehidupan nyata, kejahatan atau kesalahan yang dibuat bad protagonist juga harus hadir sepaket sama konsekuensi.
Selain agar terasa nyata, bagian ini juga penting sebagai cara menyampaikan pesan ke pembaca. Mereka harus tahu kalau setiap perbuatan pasti akan dapat balasan setimpal.
Penutup
Seringkali pembaca jatuh cinta sama tokoh fiksi bukan karena dia sempurna. Melainkan karena tokoh tersebut punya banyak sifat yang relevan dengan sifat asli manusia.
Jadi, jangan takut lagi buat menciptakan karakter protagonis yang buruk , ya! Jangan lupa ikuti tips di atas biar tokoh di ceritamu makin dicintai pembaca.
Mau belajar kepenulisan gratis bareng aku di Komunitas Penulis Online Produktif ? Jangan sungkan hubungi admin kece di sini .
