Table of Contents
Nulis novel genre slice of life sekilas emang keliatan gampang. Tapi setelah dieksekusi, ternyata banyak yang kesulitan. Bukan karena gak tahu gimana bikin konflik, cuma bingung cara menyajikan konflik tersebut biar ringan tapi gak bikin pembaca bosan.
Di antara genre populer lain, genre slice of life emang paling rawan kehilangan feel karena isinya cuma drama sehari-hari. Eits … tapi jangan khawatir, ada kok cara yang bisa kamu ikutin biar novel genre slice of life yang kamu tulis gak ngebosenin.
Langsung aja, ini dia 6 tips menulis novel slice of life anti boring:
1. Sajikan Konflik yang Ringan & “Relate”
Kesalahan besar penulis adalah sering mikir kalau genre slice of life itu gak perlu konfik. No! Genre yang satu ini pun tetap perlu konflik seperti genre lain. Cuma … konflik di genre slice of life harus dikemas ringan dan relate sama kehidupan sehari-hari.
Penulis bebas masukkan konflik apa aja, asal eksekusinya tepat dan gak bikin keluar dari genre ini. Misalnya, fenomena susah cari kerja di negeri kita tercinta yang ternyata dipengaruhi beberapa faktor, melahirkan manusia pengangguran dengan macam-macam karakter.
Di cerita tersebut, penulis bisa menyajikan realita yang sering terjadi di kehidupan nyata ke dalam cerita. Misalnya, karena nganggur jadi suka ngutang, tapi lama-lama yang ngutangin muak dan gak mau lagi kasih pinjaman, sehingga si tokoh frustasi, kesal, bahkan bisa kecewa sama dirinya sendiri.
Nah, di sini letak konflik slice of life dimainkan biar gak bikin bosan. Penulis jangan cuma fokus sama plot, tapi juga fokus sama konflik batin dan perkembangan karakter. Setelah si tokoh merasa kecewa sama dirinya sendiri, dapat sindiran bahkan hinaan dari orang lain karena dicap “beban”, dia kemudian tergugah untuk bangkit. Gak usah maksain tokoh buat kerja kantoran, dia buka jasa ojek payung aja, itu artinya penulis udah berhasil bikin karakter tokohnya berkembang.
Tapi, jangan lupa cara penyajiannya juga diperhatiin, terutama masalah tempo.
2. Fokus pada Eksplorasi Emosi
Plot slice of life ya cuma gitu-gitu aja. Hal ini yang bisa bikin pembaca bosan kalau penulisnya gak pintar ngimbangin sama emosi.
Misal, namanya orang lagi nganggur dan tinggal di kost rame-rame, udah biasa makan punya siapa aja. Tapi, ketika si tokoh makan satu roti yang ada di meja dapur yang gak tahu punya siapa, temannya tiba-tiba datang dan marah besar. Si tokoh akhirnya malu, bingung, kecewa karena merasa dihina di depan penghuni kost lain.
Penulis bisa lanjutkan konfliknya dengan melibatkan keputusan tokoh. Bisa keputusan yang benar, salah, atau mungkin absurd (kalau di mix sama genre komedi).
Baca juga : 4 Cara Bikin Tokoh Jahat (Bad Protagonist)
3. Ciptakan Karakter yang “Relatable” (Manusiawi)

Alih-alih buat tokoh yang sempurna, punya jabatan tinggi, disukai banyak wanita layaknya cerita romansa, di genre slice of life penulis cukup menciptakan karakter tokoh yang relatable sama kehidupan sehari-hari. Misal, pedagang es yang sepi pembeli di saat musim hujan, lalu terpaksa cari pinjaman buat buka usaha lain yang dinilai lebih menjanjikan. Eh, ternyata pinjamnya dari tempat terlarang yang malah buat usaha baru juga keluarganya bubar.
Tapi, bukan berarti penulis gak boleh buat tokoh yang punya jabatan besar, ya. Selama masih relatable dan bisa diterima di genre slice of life, ya boleh-boleh aja.
4. Pastikan Alur Dinamis dan Terarah
Meskipun kelihatannya lempeng-lempeng aja karena cuma menceritakan kehidupan sehari-hari, novel slice of life juga tetap perlu alur dinamis dan terarah. Penulis harus tahu ceritanya mau dibawa ke mana. Lebih bagus kalau punya outline ataupun catatan kasar tentang adegan yang akan disajikan pada setiap babnya. Jangan buat cerita stuck di situ-situ aja karena alurnya gak jalan alias gak dinamis, ya!
5. Buat Ending yang Realistis
Satu lagi yang buat novel slice of life beda sama novel genre lain, yaitu ending. Kebanyakan genre lain menyuguhkan akhir cerita yang bikin pembaca geleng-geleng kepala meskipun belum tentu ada kejadian serupa di dunia nyata. Tapi di genre slice of life, penulis cuma perlu kasih akhir cerita yang realistis dan relatable sama pembaca.
Misal, novel dengan tokoh pengangguran akut yang di akhir cerita ternyata dapat kerja yang gak sesuai ekspektasinya. Pembaca akan merasa dekat karena emang di jaman sekarang, bisa dapat kerja serabutan aja senengnya udah luar biasa. Terlebih, kalau ternyata banyak pembaca yang punya pengalaman serupa.
6. Sisipkan Pesan Moral Secara Halus

Pesan moral itu penting buat semua cerita terlepas genrenya apa. Tapi, di cerita slice of life, penulis harus bisa menyampaikan pesan secara halus biar gak terkesan ceramah atau menyinggung. Karena setiap yang penulis sajikan di cerita, mungkin aja ada banyak orang yang mengalami juga.
Jadi, sebisa mungkin selipkan pesan-pesan moral lewat perkembangan tokoh, konsekuensi dari keputusan tokoh, atau hal-hal kecil yang gak perlu ditulis gamblang, tapi bisa bikin pembaca merenung dan ikut merasakan.
Penutup Tips Menulis Novel Slice of Life
Novel genre slice of life gak perlu konflik bombastis, tapi perlu perkembangan tokoh yang realistis dan bisa bikin pembaca merasa diwakilkan perasaannya oleh penulis. Gak perlu “wah”, yang penting jujur dan peka terhadap kejadian di dunia nyata.
Sekarang udah paham, kan, gimana caranya bikin novel slice of life yang gak membosankan? Kalau masih belum puas, drop aja pertanyaan di kolom komentar, ya!
Satu lagi, kalau kamu mau belajar bareng aku di Komunitas Penulis Online Produktif, jangan sungkan hubungi admin di sini. Gratis!
