Let’s be honest, kalau kita lihat sekeliling, tren membaca di kalangan Gen Z (generasi yang lahir antara 1997–2012) tampaknya lagi berubah drastis. 

Banyak yang sempat bilang kalau Gen Z adalah generasi yang kecanduan scrolling TikTok, bed-rotting sampai pagi atau lebih senang video podcast daripada buku. 

But, let me tell you something: Faktanya jauh lebih kompleks daripada itu. 

Generasi Z ternyata bukan cuma membaca lebih banyak dibanding generasi atas mereka, mereka bahkan “menghidupkan kembali praktek membaca fiksi yang sehat”.

Baca juga : 4 Subgenre Novel Fantasi yang Laku Keras di Aplikasi Online

Data Berbicara: Gen Z Mencari Representasi, Bukan Sekadar Hiburan

Sebuah artikel tahun 2022 di Forbes berjudul New Survey Spotlights Exactly What Gen Zers Are Reading On Their Phones mengungkap bahwa “79% responden survei Generasi Z mengatakan keragaman dan representasi penting bagi mereka saat memilih buku, film, atau bentuk hiburan lainnya. Sebanyak 60% pembaca Generasi Z melaporkan mencari buku, cerita, atau komik yang menyoroti kelompok-kelompok yang terpinggirkan, jauh lebih tinggi daripada generasi lain (40%).”

Yang lebih menarik lagi, minat baca secara keseluruhan juga naik di Indonesia. Data BPS menunjukkan, Indeks kegemaran membaca meningkat dari 66,77% di 2023 menjadi 72,44% di 2024, dan Gen Z punya peran besar dalam tren ini.

Mengapa Gen Z Membaca? (Psikologi di Balik Fiksi)

Kalau dulu generasi orang tua membaca buku mungkin buat tugas sekolah atau hiburan ringan, jangan heran kalau Gen Z punya motivasi lain. Mereka membaca sebagai cara memahami dunia yang kompleks dan emosional. 

Apa iya?

Ini terlihat lewat preferensi genre mereka yang luas, mereka nggak cuma baca satu jenis fiksi. Masih berdasarkan artikel Forbes tadi, genre-genre seperti fantasi, young-adult, romansa, horor, sampai fiksi ilmiah mencapai angka yang jauh lebih tinggi dibanding generasi lain. 

Lebih dari itu, 83% Gen Z bilang mereka lebih suka cerita yang lebih beragam dan inklusif, dan mereka sering cari itu lewat platform digital seperti webnovel, webkomik dan e-book karena pilihan tradisional kadang merasa terbatas. 

Di sini mulai kelihatan hubungan membaca dengan kebutuhan emosional Gen Z. Menurutku, Gen Z nggak cuma mau baca cerita, tapi cerita yang nggak nurutin stereotip lama, cerita tentang luka, identitas, hubungan yang kompleks, atau realitas sosial yang sering kali nggak dibahas di sekolah maupun percakapan orang dewasa.

Tema “Gelap” & Realistis yang Dicari Gen Z

Luka dan trauma dialami setiap generasi, tapi respon mereka nggak sama. Gen Z sejauh ini lebih frontal dibanding Milenial apalagi Gen Z dan Boomer perkara menentang sistem yang mereka anggap nggak sesuai. 

Kalau kita perhatikan tren besar yang muncul di berbagai komunitas online, Gen Z semakin banyak naikkan diskusi tentang keresahan hidup yang selama ini kurang terekspos seperti luka pengasuhan, ekspektasi keluarga, tekanan patriarki, pertanyaan tentang peran gender, keraguan terhadap institusi pernikahan tradisional, pilihan hidup kontroversial seperti childfree misalnya, tekanan sosial yang bikin mereka merasa antara mengejar karier, keluarga, dan kesejahteraan mental.

Sudah banyak cerita fiksi populer bahkan film dan serial Netflix yang sekarang nggak takut mengangkat tema-tema ini. Dan itu bukan kebetulan, Gen Z membaca cerita yang menggambarkan dilema mereka sendiri. 

Karakter manusiawi yang ragu dan takut menikah, yang merasa terjebak oleh harapan orang tua, atau yang sedang menyusun ulang makna hubungan interpersonal dalam hidup mereka. 

Ini adalah beberapa contoh film yang mengangkat tema keresahan Gen Z:

Keluarga Suami Adalah Hama

minat baca gen z

Seorang suami memperjuangkan kehidupan bersama istrinya, di tengah-tengah kondisinya yang terjebak untuk menanggung semua beban keluarganya. Berbagai konflik dan kepentingan membuat posisi suami menjadi serba salah, ditambah dengan sikap keluarga suami yang selalu menyalahkan sang istri hingga sampai harus menggagalkan mimpi mereka dimana berujung pada keretakan rumah tangga mereka. 

Film pendek ini mengungkap keresahan pria sebagai generasi sandwich yang seringkali dituntut untuk mengedepankan kepentingan keluarga di atas kepentingan rumah tangga kecilnya. 

Gak Nikah Gapapa Kan?

Bercerita tentang Jagat, pria 32 tahun yang terhimpit berbagai tekanan hidup setelah ayahnya meninggal. Ibunya sakit, masalah keluarga menumpuk, kondisi finansial goyah, sementara ia juga didesak untuk segera menikah dengan pasangannya. 

Film ini nggak sekadar membahas soal nikah atau nggak nikah, tapi menyoroti bagaimana ekspektasi sosial, budaya patriarki dan tuntutan keluarga sering kali membuat pilihan hidup dewasa terasa berat dan penuh rasa bersalah, seolah kebahagiaan pribadi harus selalu dikorbankan demi memenuhi standar masyarakat.

Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah

Lagi-lagi soal dilema yang mempertanyakan fungsi pernikahan. Alin, yang sepanjang hidupnya merasa terasing dari ayah kandungnya, mulai mempertanyakan banyak hal terutama setelah dia tahu ibunya sempat bercita-cita menjadi dokter sebelum menikah dengan ayahnya. 

Film ini menyoroti luka batin seorang anak dewasa yang tumbuh di keluarga penuh konflik, dengan narasi “andaikan” sebagai cara untuk mempertanyakan keputusan orang tua di masa lalu. 

Kisah ini memperlihatkan bagaimana pernikahan yang dijalani tanpa kesiapan emosional, cinta, dan kesetaraan—sering kali dibalut patriarki dan kekerasan verbal—meninggalkan dampak panjang pada anak, terutama rasa bersalah, marah, dan pertanyaan diam-diam tentang apakah hidup semua orang akan lebih baik jika pernikahan itu nggak pernah terjadi.

A Normal Woman

Film drama psikologis tentang perjalanan Milla, seorang perempuan sosialita yang tampak punya hidup “sempurna”, tapi perlahan tekanan sosial, citra diri, dan trauma masa lalu mengubah hidupnya secara drastis. Ini bukan fiksi romance biasa, film ini mengangkat keresahan psikologis yang sangat dekat dengan isu self-image, kritik sosok wanita dalam keluarga/pernikahan dan ekspektasi sosial

Bila Esok Ibu Tiada

Drama keluarga yang fokus pada hubungan antara ibu dan anak ketika menghadapi kemungkinan kehilangan. Ceritanya sederhana, tapi emosi dan tekanan batin karakter sangat kuat, terutama soal ketergantungan emosional, rasa takut kehilangan dan pencarian makna hubungan keluarga.

Aku Jati, Aku Asperger

Film drama yang menggambarkan perjuangan seorang pria dengan Asperger’s Syndrome memahami dirinya sendiri dan menghadapi perubahan hidup ketika hubungan keluarga dan cinta berakhir

Fiksi seperti di atas mengeluarkan keresahan yang selama ini sering disimpan sendiri. Itu sebabnya genre yang lebih “gelap”, emosional, atau kritis terhadap norma sosial cenderung lebih disukai. Seolah mereka mendapatkan validasi emosional dan ruang refleksi lewat karakter dan konflik yang terasa jujur itu.

Dunia Digital adalah Samudera Luas Tanpa Batas, Dan Itu Ada dalam Genggaman Gen Z

Salah satu alasan kenapa minat baca generasi ini terlihat besar adalah karena Gen Z nggak lagi tergantung pada buku cetak yang dikurasi penerbit besar. Mereka menemukan bacaan lewat komunitas online, platform bercerita, dan rekomendasi seperti:

  1. Wattpad dan webnovel yang penuh cerita beragam dari penulis independen 
  2. Tren #BookTok dan #Bookstagram yang membuat membaca jadi tren sosial 
  3. Komunitas lokal Indonesia yang antusias berbagi rekomendasi dan diskusi cerita

Ini membuat membaca fiksi jadi bagian dari identitas sosio-kultural mereka, bukan sekadar aktivitas pasif.

Minat Baca Gen Z Bergeser dari Hiburan menjadi Bahan Refleksi dan Validasi

Kalau dilihat dari preferensi genre, Gen Z nggak sekadar baca apa saja. Mereka mencari cerita yang punya kedalaman emosi seperti:

  1. Romansa yang jujur dan kompleks
  2. Fantasi dunia lain yang memberi rasa unik tanpa harus realistis
  3. Young adult yang mengeksplorasi pencarian identitas
  4. Cerita yang menantang norma sosial

Minat baca Gen Z nggak tanggung-tanggung, kan? Mereka ingin makna, bukan sekedar plot yang lucu atau ringan.

Kesimpulan: Fiksi sebagai Cermin Zaman

Minat baca fiksi di kalangan Gen Z bukan sekadar tren nostalgia atau sekadar hobi baru. Ini menunjukkan perubahan cara generasi ini memahami dunia. Mereka membaca untuk mencari identitas, untuk memahami luka mereka sendiri, untuk menantang norma sosial, untuk mengartikulasikan pengalaman batin yang selama ini sering disalahpahami.

Data menunjukkan mereka lebih aktif membaca daripada generasi lain dalam banyak aspek, dan mereka menggunakan bacaan sebagai alat refleksi diri sendiri, bukan sekadar hiburan semata.


Referensi :

https://www.forbes.com/sites/robsalkowitz/2022/12/08/new-survey-spotlights-exactly-what-gen-zers-are-reading-on-their-phones/

https://amp.kompas.com/tren/read/2025/10/16/203000065/kabar-baik-minat-baca-orang-indonesia-naik-didominasi-gen-z

Lisandi Noera

Penulis novel ragam genre. CEO Platform Baca Tulis Novel Online Litera. Founder Ruang Pena Cendekia.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *