Table of Contents
Kemajuan teknologi digital ternyata berdampak pesat pada literasi. Hal ini ditandai dengan maraknya aplikasi baca digital yang mudah diakses oleh hampir semua kalangan. Mulai dari remaja, dewasa, bahkan para ibu rumah tangga yang ingin rehat sejenak dari urusan keluarga.
Di tengah kemudahan ini, memahami batasan tag usia pada novel online menjadi sebuah urgensi tersendiri. Walau sebagian orang hanya menjadi penikmat cerita, tidak sedikit yang berlomba-lomba menjadi penulis demi meraup penghasilan dan ketenaran, yang pada akhirnya memicu munculnya berbagai tantangan moralitas baru.
Baca juga: Panduan dan Tantangan Menulis Cerita Romansa Historis
Fenomena Pelanggaran Batasan Tag Usia pada Novel Online
Di era booming-nya aplikasi novel online, banyak penulis yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. Alhasil, kini pasar novel digital terasa jauh melewati batas moral. Di samping itu, banyak pembaca yang menormalisasi cerita menyimpang, sehingga cerita-cerita serupa ikut naik pesat.
Adanya tag usia pada sebuah novel online adalah sebagai penanda bahwa isi cerita telah disesuaikan dengan tingkat kedewasaan pembaca. Namun, terkadang hal itu diabaikan oleh segelintir penulis yang mengenyampingkan moralitas.
Lalu, sebagai seorang penulis, sampai di mana batasan yang seharusnya diperhatikan ketika menulis novel berdasarkan kategori usia tertentu?
Jika ditelusuri, masih banyak sekali penulis yang memuat adegan tidak seharusnya pada tag usia tertentu, terutama novel genre fiksi remaja yang memiliki target pembaca 16+.
Contoh yang sering ditemukan adalah tokoh remaja yang menjalin hubungan asmara layaknya orang dewasa, seperti adegan berciuman secara berlebihan, interaksi romantis yang melewati batas, maupun adegan mesra yang seharusnya belum layak menjadi konsumsi pembaca di bawah umur.
Beberapa cerita juga menampilkan tokoh perundung yang terus mendapatkan kemenangan sepanjang cerita tanpa pernah menerima konsekuensi atas tindakan yang dilakukan.
Ada pula cerita yang menampilkan penyimpangan seksual tertentu, kemudian menormalisasikan hingga akhir cerita. Atau tokoh yang gemar melakukan tindakan kriminal seperti mencuri, melakukan kekerasan, bahkan pembunuhan, tetapi perilaku tersebut digambarkan seolah sebagai hal normal.
Terlepas dari alasan di balik penulisan cerita tersebut, hal ini lebih baik dihindari demi menjaga kesehatan literasi.
Kenapa Penyesuaian Isi Cerita Berdasarkan Tag Usia Itu Penting?
Karena novel hanya karya fiksi, sebagian orang beranggapan penulis bebas menulis konflik apa pun sesuai keinginan. Padahal, di setiap novel terdapat kategori usia yang memiliki tingkat kematangan berpikir berbeda pada setiap pembaca.
Pembaca usia 16 tahun masih berada dalam tahap perkembangan emosi dan pembentukan cara pandang terhadap lingkungan sekitarnya. Ketika mereka terus-menerus mengonsumsi cerita yang menormalisasi hubungan yang terlalu dewasa, kekerasan, atau perilaku menyimpang, bukan tidak mungkin mereka akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan nyata.
Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat memengaruhi cara berpikir pembaca muda, mendorong perilaku meniru, memperluas normalisasi pergaulan bebas, bahkan meningkatkan toleransi terhadap kekerasan.
Karena itu, tag usia pada novel online seharusnya dipandang sebagai bentuk perlindungan bagi pembaca, bukan sekadar penanda.
Aturan Penulisan untuk Kategori Dewasa (18+ dan 21+)
Lalu, bagaimana batasan untuk cerita yang memang menargetkan audiens dewasa? Berikut penjelasannya:
Batasan untuk Novel Kategori 18+
Novel dengan kategori usia 18+ memang memberikan ruang yang lebih luas dibanding novel kategori remaja. Pembaca dalam kategori ini dianggap memiliki tingkat kedewasaan yang lebih baik dalam memahami serta menyaring isi cerita yang mereka baca.
Meski demikian, hal tersebut bukan berarti penulis bebas memenuhi hampir seluruh cerita dengan adegan sensual atau hubungan layaknya suami istri tanpa ikatan yang sah.
Ketika sebuah novel terlalu berfokus pada adegan dewasa dan mengabaikan pembangunan konflik, pengembangan karakter, maupun pesan moral, maka novel tersebut perlahan kehilangan esensinya sebagai karya yang menawarkan pengalaman membaca yang utuh.
Adegan sensual bukanlah masalah utama. Yang perlu diperhatikan adalah ketika adegan tersebut justru menjadi elemen dominan sepanjang cerita.
Apakah Novel 21+ Terbebas dari Batas Moral?
Kategori usia 21+ memang diperuntukkan bagi pembaca dewasa yang dianggap mampu menyaring isi bacaan secara mandiri. Namun, kebebasan dalam menulis tetap sebaiknya tidak menghilangkan tanggung jawab moral seorang penulis.
Khusus adegan dewasa, penulis sebaiknya tidak menggambarkan secara vulgar atau menjadikannya bagian yang terus berulang sepanjang cerita.
Adegan semacam ini tetap dapat ditulis secara implisit melalui pemilihan diksi yang lebih halus, elegan, dan tidak berlebihan. Karena kualitas novel tidak ditentukan oleh seberapa berani adegan yang ditampilkan, melainkan seberapa kuat cerita itu dibangun secara keseluruhan.
Penulis Membawa Pengaruh Pada Pembaca
Setiap karya yang dipublikasikan akan dibaca oleh banyak orang dengan latar belakang dan tingkat kedewasaan yang berbeda. Karena itu, penulis bukan hanya seseorang yang menciptakan hiburan, tetapi juga pihak yang secara tidak langsung memberi pengaruh terhadap pembacanya.
Semakin besar kebebasan yang diberikan platform novel online, semakin besar pula tanggung jawab penulis untuk memastikan bahwa karya yang mereka tulis tidak memberi dampak negatif, terutama bagi pembaca yang masih berada pada usia rentan.
Kebebasan berkarya tentu penting. Namun, memahami batasan dan menyesuaikan isi cerita dengan tag usia pembaca adalah bentuk tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
Penutup
Setiap penulis memiliki kebebasan untuk menentukan cerita seperti apa yang ingin mereka ciptakan. Namun, kebebasan tersebut seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran bahwa setiap karya yang dipublikasikan akan sampai kepada pembaca dengan usia, pola pikir, dan tingkat kedewasaan yang berbeda-beda.
Menulis cerita yang menarik memang penting, tetapi memahami tanggung jawab atas dampak dari cerita yang kita tulis jauh lebih penting. Sebab, karya yang baik bukan hanya mampu menghibur, melainkan juga hadir tanpa mengabaikan nilai, etika, dan tanggung jawab moral di dalamnya.
Menulis dengan bebas itu asyik, tapi menulis dengan penuh tanggung jawab itu baru namanya penulis profesional!
Pengin diskusi lebih lanjut soal cara menentukan rating usia atau nulis adegan yang elegan tanpa harus vulgar? Yuk, gabung bareng teman-teman penulis lainnya di Komunitas Penulis Online Produktif (KPOP). Kita bedah tuntas etika nulis bareng-bareng! Klik di sini untuk join grupnya secara Gratis!