Table of Contents
Dalam dunia kepenulisan, ada satu fenomena yang sangat umum terjadi, tapi jarang dibahas secara serius: penulis yang sering pindah dari satu naskah ke naskah lain sebelum naskah pertama selesai. Banyak penulis menyebutnya dengan istilah bercanda, “selingkuh naskah”.
Baru nulis beberapa bab, tiba-tiba punya ide cerita baru.
Baru masuk konflik tengah, udah bosan.
Akhirnya, naskah lama ditinggalkan, naskah baru dimulai.
Lalu beberapa minggu kemudian, kejadian yang sama terulang lagi.
Kalau kamu pernah begini juga, tenang. Kamu nggak sendirian. Banyak penulis mengalami hal yang sama. Dan biasanya, ada beberapa alasan kenapa hal ini bisa terjadi. Artikel ini akan membedah penyebab dan cara mengatasi kebiasaan selingkuh naskah agar kamu bisa segera menamatkan ceritamu.
Baca juga: Cara Mengatasi Alur Cerita Flat
Mengapa Penulis Sering “Selingkuh” Naskah?
Ada beberapa alasan mengapa kebiasaan ini sangat sering terjadi dan berulang-ulang:
1. Ide Baru Terasa Lebih Segar dan Menggoda
Ini alasan paling umum. Saat ide baru muncul, rasanya seperti:
- Wah, ini lebih seru
- Wah, ini lebih emosional
- Wah, ini kayaknya lebih unik
- Wah, ini kayaknya bisa jadi cerita bagus banget
Ide baru memang selalu terasa lebih menarik daripada ide lama. Kenapa? Karena ide baru masih ada di kepala, masih sempurna, belum ketemu masalah, belum mentok di tengah cerita, belum pusing mikirin konflik dan ending.
Sementara naskah lama udah masuk ke dunia nyata:
- Harus mikirin konflik
- Harus mikirin alur
- Harus mikirin karakter
- Harus mikirin dialog
- Harus mikirin ending
Akhirnya ide baru terlihat lebih indah, lebih mudah, dan lebih menjanjikan. Betul atau betul?
Padahal kenyataannya, kalau ide baru itu ditulis sampai bab 10 atau 15, kemungkinan besar kamu akan bosan lagi dan menemukan ide baru lagi. Siklusnya akan terus berulang.
Jadi, masalahnya sering bukan di ceritanya, tapi di kebiasaan kita yang selalu tergoda sesuatu yang baru.
Solusinya sederhana: Kalau ada ide baru, jangan langsung ditulis jadi naskah. Tulis aja di catatan ide. Simpan. Lanjutkan naskah lama dulu minimal satu bab lagi. Biasanya setelah nulis lagi, kamu bakal masuk lagi ke alur cerita lama.
2. Naskah Lama Terasa Buntu di Tengah Jalan
Banyak penulis semangat di awal cerita, tapi mulai menyerah di tengah. Ini wajar banget, karena bagian tengah cerita memang bagian paling sulit dalam menulis novel.
Biasanya struktur cerita itu seperti ini:
- Awal cerita (mudah, penuh ide)
- Tengah cerita (mulai sulit)
- Klimaks (seru lagi)
- Ending (lega)
Masalah terbesar ada di bagian tengah. Di sini, penulis harus:
- Mengembangkan konflik
- Menambah masalah
- Membuat hubungan tokoh makin rumit
- Menjaga cerita tetep seru
- Menjaga emosi pembaca
- Jangan sampai membuat cerita muter-muter
Kalau nggak punya outline atau konflik yang cukup kuat, bagian tengah bakal terasa:
- Muter di situ-situ aja
- Tokoh kayak cuma ngobrol biasa
- Nggak ada masalah besar
- Nggak tau mau dibawa ke mana
- Penulis mulai bosan sendiri
Akhirnya, penulis bakal merasa, “Cerita ini kayaknya jelek,” lalu pindah ke cerita baru.
Padahal, sering kali ceritanya nggak jelek, cuma butuh konflik baru aja.
Kalau ceritamu mulai datar, coba tambahkan:
- Rahasia baru terbongkar
- Tokoh baru datang membawa masalah
- Tokoh utama kehilangan sesuatu
- Pengkhianatan
- Kesalahpahaman besar
- Pertengkaran hebat
- Ancaman
- Masa lalu terbongkar
- Tokoh difitnah
- Tokoh diusir
- Tokoh bangkrut
- Tokoh sakit
- Tokoh dijodohkan
- Tokoh dikhianati sahabat
Intinya, kalau ceritamu mulai datar, biasanya karena nggak ada yang dipertaruhkan oleh tokoh.
3. Kehilangan Emosi Saat Menulis Cerita Lama
Menulis cerita itu sebenarnya bukan cuma soal alur, tapi juga soal emosi. Banyak penulis berhenti menulis karena udah nggak lagi merasakan emosi dari cerita itu.
Di awal menulis, biasanya penulis:
- Semangat
- Baper
- Ikut marah
- Ikut sedih
- Ikut jatuh cinta dengan tokoh
- Nggak sabar menulis bab selanjutnya
Tapi setelah bab 10, 15, atau 20, mulai terasa biasa aja. Menulis berasa kayak tugas, bukan lagi sesuatu yang membuat berdebar. Saat itulah ide baru datang dan terasa lebih hidup.
Ini normal. Sangat normal. Karena emosi manusia memang naik turun. Nggak mungkin kita selalu semangat pada cerita yang sama selama berbulan-bulan.
Kalau mulai kehilangan emosi, coba:
- Baca ulang bab paling sedih
- Baca ulang bab paling romantis
- Dengarkan lagu yang cocok dengan cerita
- Tulis adegan paling emosional dulu walau belum sampai
- Tulis adegan klimaks dulu
- Tambahkan konflik yang bikin kamu sendiri emosi
Karena sebenarnya:
Pembaca merasakan emosi dari penulis. Kalau penulis menulis tanpa emosi, pembaca juga membaca tanpa emosi.
4. Cerita Baru Terasa Lebih Menjanjikan
Kadang, penulis berpikir:
- Cerita ini lebih laris
- Cerita ini lebih unik
- Cerita ini lebih beda
- Cerita ini lebih viral
- Cerita lama terlalu biasa
- Cerita baru ini kayaknya disukai banyak orang
Akhirnya naskah lama ditinggalkan karena merasa cerita baru lebih punya masa depan.
Padahal ada satu hal yang sering dilupakan:
Cerita yang selesai selalu lebih berharga daripada cerita yang bagus tapi nggak pernah selesai.
Di dunia kepenulisan, yang penting bukan cuma ide bagus. Tapi:
- Konsistensi
- Disiplin
- Menyelesaikan cerita
- Ketahanan mental
- Komitmen pada cerita
Banyak penulis yang sebenarnya berbakat. Banyak penulis yang punya ide bagus. Tapi mereka nggak pernah punya buku selesai karena selalu pindah-pindah naskah.
Ingat ini:
Ide bagus itu banyak. Penulis yang bisa menyelesaikan cerita itu sedikit.
5. Takut Menghadapi Bagian Sulit di Naskah
Ini alasan yang jarang disadari. Banyak penulis sebenarnya bukan buntu, tapi takut menulis bagian yang sulit.
Bagian sulit dalam novel biasanya:
- Adegan pertengkaran besar
- Adegan pengkhianatan
- Adegan tokoh menangis
- Adegan romantis
- Plot twist
- Pengungkapan rahasia
- Kematian tokoh
- Adegan marah besar
- Ending
Kenapa bagian ini sulit? Karena:
- Harus emosional
- Harus masuk akal
- Harus kuat
- Takut jelek
- Takut nggak sesuai ekspektasi
- Takut pembaca nggak puas
Akhirnya, penulis justru malah menunda. Lalu menunda lagi. Lalu lama-lama merasa buntu. Kemudian pindah ke cerita baru yang masih terasa mudah.
Padahal sebenarnya:
Bukan ceritanya yang sulit, tapi kita yang takut menulisnya.
Solusinya sederhana:
- Tulis aja dulu
- Nggak perlu bagus
- Nggak perlu sempurna
- Tulis versi jeleknya dulu
- Nanti bisa diedit
Karena:
Kamu nggak bisa mengedit halaman kosong.
4 Cara Mengatasi Kebiasaan Selingkuh Naskah
Untuk menghentikan siklus ini, terapkan tips berikut:
1. Buat Outline Sampai Ending
Banyak penulis berhenti di tengah karena nggak tau endingnya mau gimana. Akhirnya ceritanya cuma muter, lama-lama penulis bosan, lalu pindah cerita.
Minimal sebelum menulis, kamu harus tau:
- Awal cerita
- Konflik utama
- Konflik tengah
- Klimaks
- Ending
Nggak harus detail, tapi kamu harus tau arah ceritanya mau ke mana.
2. Gunakan Sistem Target
Kenapa harus pakai target. Itu dilakukan agar kita konsisten. Mungkin, awal-awal akan terasa berat. Tapi, semua akan mudah jika sudah terbiasa.
Sini aku kasih contoh:
- Target 1 hari 1 halaman
- Target 1 minggu 2 bab
- Target 1 bulan 10 bab
- Nggak boleh mulai cerita baru sebelum 30 bab
- Nggak boleh mulai cerita baru sebelum naskah pertama selesai
Dengan target seperti ini, otak kita akan menganggap naskah ini sebagai tanggung jawab, bukan sekadar ide yang bisa ditinggalkan kapan saja.
3. Simpan Ide Baru di “Bank Ide”, Jangan Dikerjakan!
Setiap penulis pasti punya banyak ide. Jangan dilawan. Tapi jangan juga langsung dikerjakan.
Buat yang namanya: Bank Ide / Buku Ide
Isi dengan:
- Judul
- Nama tokoh
- Konflik
- Plot twist
- Ending
- Opening hook
- Kutipan dialog
Jadi idenya nggak hilang, tapi juga nggak mengganggu naskah utama yang lagi kamu kerjakan.
4. Ingat Tujuan Utamamu Menulis
Tujuan. Ini penting banget, Gaes. Ibaratnya, ini adalah google maps buat kamu.
Coba tanya ke diri sendiri:
- Mau jadi penulis yang punya banyak ide?
- Atau penulis yang punya banyak novel selesai?
- Mau punya banyak draft?
- Atau banyak cerita tamat?
Karena jujur aja, dunia kepenulisan nggak terlalu membutuhkan orang yang punya 100 ide cerita.
Dunia kepenulisan membutuhkan orang yang bisa menyelesaikan tulisannya.
Kesimpulan
Fenomena penulis yang sering selingkuh naskah itu sangat wajar. Hampir semua penulis pernah mengalaminya. Ide baru selalu terasa lebih menarik, naskah lama terasa membosankan, bagian tengah terasa buntu, dan bagian sulit terasa menakutkan.
Tapi, yang membedakan penulis yang berhasil dan penulis yang nggak pernah punya buku selesai bukanlah bakat, bukan ide, bukan pula gaya bahasa.
Tapi satu hal:
Kemampuan menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Menulis novel bukan lomba siapa yang punya ide paling banyak, tapi siapa yang paling kuat bertahan sampai akhir cerita.
Ingat kalimat ini baik-baik:
Banyak orang bisa memulai cerita.
Tapi hanya sedikit orang yang bisa menyelesaikannya.
Dan penulis yang berhasil adalah mereka yang tetap menulis bahkan ketika sudah tidak merasa semangat.
Jadi, kalau kamu sedang menulis naskah, lalu mulai merasa bosan, mulai tergoda ide baru, mulai merasa cerita tidak menarik, ingat satu hal:
Jangan selingkuh naskah! Selesaikan dulu apa yang sudah kamu mulai.
Gimana, Gaes? Ngaku deh, siapa di sini yang di laptopnya ada puluhan folder naskah tapi nggak ada satu pun yang tamat? 😂
Yuk, mulai sekarang tobat selingkuh naskah bareng-bareng! Biar kamu punya support system buat nahan godaan ide baru dan semangat nulis sampai ending, mending gabung aja di Komunitas Penulis Online Produktif (KPOP). Kita bakal saling ngingetin dan mecut satu sama lain biar naskahmu cepat tamat. Klik di sini buat gabung grupnya, Gratis!