Mirip-mirip dengan Fiksi Ilmiah, Fiksi sejarah tuh seperti berjalan di garis tipis antara fakta dan imajinasi. Di satu sisi, pembaca (atau penonton) berharap dibawa ke masa lalu yang terasa otentik mulai dari pakaian, bahasa, suasana, sampai nilai-nilai zamannya sekalian. 

Tapi di sisi lain, fiksi tetaplah fiksi yang membuka ruang seluas mungkin untuk racikan bumbu bernama : Imajinasi.

Pertanyaannya : Seberapa jauh sih imajinasi boleh mengubah sejarah sebelum karya itu kehilangan nilai “sejarah”-nya? Harus seakurat apa Fiksi Sejarah?

Yuk, Bestie! Kita bahas secara asyik-asyikan di sini. 

Intip Sebentar Yuk, Drama Korea Hits Berjudul “Bon Appetit, Your Majesty”

Sebelum bahas harus seakurat apa Fiksi Sejarah, kita intip dulu yuk drama korea yang baru-baru ini lagi hype di TikTok dan mempengaruhi gaya masak ibu rumah tangga Milenial sampai Gen Z.

Drama Korea “Bon Appétit, Your Majesty” diangkat dari web novel populer berjudul “Surviving as Yeonsan-gun’s Chef” karya Park Guk-jae. Dalam versi aslinya, cerita berlatar masa pemerintahan Yeonsangun—raja ke-10 Dinasti Joseon yang terkenal sebagai penguasa tiran. 

Tapi nih, versi dramanya ternyata memilih jalan lebih ringan. Nama raja diubah jadi Yi Heon, dan kisahnya dikemas dalam perpaduan romantika, komedi, dan pastinya … fantasi kuliner. 

Tokoh utama perempuannya adalah seorang juru masak modern yang terlempar ke masa lampau, ini part yang bikin drama ini jauh lebih bersifat “fantasi sejarah” daripada rekonstruksi sejarah yang akurat.

Tokoh-tokoh seperti Yi Heon, Yeon Ji-yeong, maupun selir dan pangeran lain di sekelilingnya sebagian besar adalah reka cipta fiksi. Mereka nggak tercatat dalam sejarah Joseon. 

Unsur sejarah diambil hanya sebagai latar estetika meliputi busana, struktur istana, dan nilai-nilai hierarki sosial. Selebihnya, kisah cinta, konflik batin sang raja, serta eksplorasi makanan, jadi wadah imajinasi yang memadukan aroma masa lalu dengan selera modern.

Jadi, boleh ya Fiksi Sejarah kayak gitu? Atau lebih tepatnya, Drama Korea “Bon Appétit, Your Majesty” ini boleh disebut Fiksi Sejarah nggak sih?

Boleh dong …

Jadi, keakuratan sejarah dalam Fiksi Sejarah itu ada spektrumnya, Bestie …

Tiga Jenis Fiksi Sejarah Berdasarkan Spektrum Akurasinya

Ayo pelajari tiga jenis sub-genre ini dulu supaya kita bisa jawab pertanyaan harus seakurat apa Fiksi Sejarah.

1. Rekonstruksi Sejarah Ketat (Historical Reconstruction)

harus_seakurat_apa_fiksi_sejarah_rekonstruksi

Yang pertama ini adalah tipe fiksi yang paling dekat dengan realitas sejarah. Fakta, tokoh, dan kejadian dicatat nyaris tanpa penyimpangan. Kalau kamu nulis ini, riset kamu harus bin wajib sematang mungkin.

Imajinasi hadir untuk mengisi ruang kosong yang nggak tertulis di catatan sejarah atau text book seperti dialog, perasaan, atau motif tokoh.

Contoh Fiksi Sejarah jenis ini yang jadi favoritku adalah drama series Kerajaan Inggris berjudul “The Tudor”. Drama ini mengisahkan Perjalanan Henry Tudor beserta enam istrinya termasuk segala intrik politik, sosial dan agama kala itu. Nih, overview-nya bisa kamu baca di link ini : The Tudor.

Kalau karya Indonesia? Ada dooong …

Rekomendasiku jatuh ke karyanya salah satu author favoritku yaitu Pramoedya Ananta Toer, judulnya “Arus Balik”. “Arus balik” bercerita tentang kejayaan Majapahit dan keruntuhannya. 

Ingat!
Di kategori ini, kesalahan detail kecil (misalnya busana atau tanggal perang) bisa dianggap fatal oleh penggemar sejarah.

2. Sejarah Terinspirasi (Inspired Historical Fiction)

Jenis Fiksi Sejarah yang ini mengambil jiwa, spirit dan latar zaman nyata, tapi tokoh dan kejadian boleh fiktif.

Penulis tetap menghormati konteks sosial, politik, dan nilai moral zamannya. Imajinasi lebih dominan, tapi masih terasa “masuk akal” dalam bingkai sejarah.

Contohnya kalian pasti tahu nih yaitu “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan. Di sini, latar dan vibesnya jaman kolonial banget kan, tapi semua karakter dan kejadiannya fiktif, hanya terinspirasi dari kejadian di masa lalu.

3. Fantasi Sejarah (Historical Fantasy / Alternate History)

Nah … di sinilah sejarah diperlakukan sebagai kanvas, bukan aturan. Penulis bebas menukar fakta, menciptakan kerajaan imajiner, atau kasih bumbu modern pada dunia lama.

Selama konsisten dan punya logika internal kuat, pembaca masih bisa menerimanya.

Selain buku dan drama “Bon Appétit, Your Majesty” tadi, ada juga nih novel Indonesia yang merupakan Fiksi Sejarah jenis ini yaitu “Mada” karya Gigrey. 

Dalam novel Mada, peristiwa dan tokoh Majapahit dijadikan dasar, tetapi alurnya menempuh versi realitas yang berbeda dari catatan sejarah sebenarnya. 

Banyak karakter dan peristiwa disusun ulang untuk menjelajahi sisi-sisi psikologis, politik, dan kemungkinan alternatif yang nggak tercatat dalam naskah sejarah. 

Di Mada, dunia Majapahit-nya bukan sepenuhnya faktual, melainkan interpretatif dan imajinatif, seolah sejarah direka ulang.

Gimana? Dari penjelasan sejauh ini, kalian pasti sudah bisa paham kan harus seakurat apa Fiksi Sejarah ditulis?

Banyak orang keliru memandang fiksi sejarah seolah tujuannya adalah mengajarkan sejarah. Padahal no no noTugas utama fiksi sejarah adalah menghidupkan manusia di balik peristiwa sejarah.

Fiksi, pada dasarnya nggak berkewajiban menceritakan peristiwa seakurat mungkin. Tujuan utama fiksi beda dengan non-fiksi. Fiksi berkewajiban menghadirkan emosi, dilema, dan jiwa manusia pada zaman itu. 

Sedari awal, Fiksi dibuat untuk menajamkan kepekaan dan empati. Tambahan pengetahuan bisa jadi nilai plus, tapi bukan poin utama.

Jadi, kebenaran dalam fiksi sejarah bukan hanya apa yang terjadi, tapi bagaimana rasanya hidup di masa itu. 

Itulah kenapa fiksi nggak boleh sama sekali menjadi rujukan. Kalau ingin dapat informasi dan rujukan, carilah di buku non-fiksi, buku bahan ajar (text book) atau karya tulis ilmiah

Penutup 

harus_seakurat_apa_fiksi_sejarah_penutup

Kebenaran Sejarah Adalah Spektrum

Fiksi sejarah bukan ujian hafalan. Dia seperti percakapan antara masa lalu dan masa kini.

Kadang kita perlu sejarah yang akurat untuk mengingat, kadang kita perlu sejarah yang lentur untuk memahami.

Selama penulis tahu di spektrum mana dia berdiri, fiksi sejarah akan tetap hidup. Dan pastinya, bukan sekadar sebagai arsip, tapi juga sebagai gema manusia di dalam waktu.

Apa buku atau film Fiksi Sejarahmu? Drop di kolom komentar ya …

Selain Fiksi Sejarah, kalian juga bisa belajar soal genre yang memuat fenomena di masa kini yaitu Realisme Sosial dan Slice of Slice di sini.

Lisandi Noera

Penulis novel ragam genre. CEO Platform Baca Tulis Novel Online Litera. Founder Ruang Pena Cendekia.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *