Di tengah tekanan hidup yang makin kompleks, banyak orang mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bisa sejenak melepas beban. Membaca novel, contohnya. Terkhusus novel-novel modern yang sudah tersedia dengan pilihan banyak genre dan tema.

Disadari atau tidak, manfaat membaca novel salah satunya efektif mengusir penat setelah bergelut dengan kegiatan di dunia nyata. Pertanyaannya, apakah ini murni hiburan, atau sebuah pelarian?

Baca juga: Tips Menulis Novel Slice of Life

Kenapa Banyak Orang Menjadikan Novel Sebagai Pelarian?

Bagi sebagian orang, novel bukan hanya sekadar hiburan, melainkan pelarian. Ini adalah tempat di mana mereka bisa masuk ke dunia yang berbeda dan melupakan semua yang mengikat di dunia nyata. Dalam dunia novel, pembaca bisa merasakan emosi tanpa harus memikirkan konsekuensi.

Dalam konteks yang sehat, pelarian lewat membaca novel bisa menghadirkan beberapa manfaat, di antaranya:

  • Mengurangi stres.
  • Membuat pikiran lebih tenang.
  • Mengalihkan fokus sementara dari masalah di dunia nyata.
  • Memberi pandangan baru terhadap kehidupan.

Namun, masalah akan muncul jika pelarian dengan membaca novel berubah menjadi penghindaran permanen terhadap realitas. Hal ini bisa menyebabkan aktivitas sosial sebagai manusia yang hidup di dunia nyata menjadi terganggu.

Novel Sebagai Terapi Emosi dan Empati

Banyak penelitian menyebutkan bahwa membaca fiksi mampu meningkatkan empati dan memahami emosi.

Hal ini selaras dengan teori yang diajukan oleh Oatley dan Mar: fiksi menyediakan tempat berlindung yang aman, sebuah simulasi bagi kita untuk mengeksplorasi dan merasakan emosi yang biasanya kita coba hindari. Dengan menciptakan pengalaman yang mendalam dan imersif, simulasi ini mempersiapkan kita untuk menghadapi situasi stres dalam kehidupan nyata dan meningkatkan kapasitas kita untuk berempati dan memahami orang lain.

Selain itu, novel juga bisa menjadi cermin luka pribadi atau bahkan mewakili luka banyak orang. Ia menjadi validasi atas perasaan yang susah diungkapkan, atau sumber kekuatan melalui kisah para karakternya. Maka, tidak sedikit pembaca yang merasa “diselamatkan” setelah membaca novel yang relate dengan kehidupan mereka.

Membaca Novel Vs Scrolling Konten Singkat

manfaat membaca novel daripada scrolling medsos

Di era digitalisasi di mana konten serba cepat banyak bermunculan, novel justru menawarkan pengalaman dengan tempo lambat dan mendalam.

Pembaca bukan hanya mendapat informasi, tapi mereka benar-benar masuk ke dunia cerita yang penulis bangun. Mereka ikut tenggelam dalam alur, dialog, bahkan konflik batin para tokoh. Proses membaca novel ini bisa melatih kesabaran, daya fokus, imajinasi, dan ketahanan emosi, di mana semua hal itu sangat jarang ditemukan dalam konsumsi konten singkat.

Peran Penulis dalam Menciptakan Cerita Relatable

Melihat besarnya dampak psikologis di atas, penulis tentu memiliki peran penting dalam menciptakan cerita yang bukan sekadar menghibur, tapi juga memberi harapan dan pandangan baru untuk pembaca.

Oleh karena itu, setiap penulis sebisa mungkin harus menciptakan karya fiksi yang juga mengangkat sebuah pesan penting dan relate dengan kehidupan nyata, alih-alih hanya fokus pada estetika.

Kesimpulan: Manfaat Membaca Novel

Menjadikan novel sebagai hiburan atau bahkan pelarian bukanlah sebuah kesalahan. Hal ini merupakan mekanisme manusiawi untuk bertahan di tengah tekanan hidup. Selama dilakukan secara sadar dan seimbang, membaca novel justru bisa menjadi terapi sederhana sekaligus meningkatkan kemampuan berempati dan mengelola emosi.

Jadi, sekarang sudah tidak takut atau ragu lagi untuk membaca novel, kan?


“Pernah nggak sih kamu ngerasa ‘diselamatkan’ oleh sebuah novel ketika lagi burnout atau stres berat? Coba drop judul novelnya dan alasan kenapa kamu suka banget sama cerita itu di kolom komentar, ya!

Dan buat kamu yang pengen bisa nulis cerita relatable yang bisa jadi ‘terapi’ buat pembaca, yuk ngobrol dan belajar bareng di Komunitas Penulis Online Produktif. Gratis lho! Klik di sini buat gabung.

***

Referensi : https://medium.com/p-s-i-love-you/how-reading-fiction-improves-your-emotional-intelligence-14b80d507d82

Deshika_Widya_Author

Deshika Widya

Deshika Widya, perempuan kelahiran Kota Tasikmalaya yang menjatuhkan pilihan pada dunia literasi sejak beberapa tahun silam. Selain sebagai cara menyalurkan hobi, kini menulis sudah menjadi profesi yang ia geluti hampir setiap hari.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *