Table of Contents
Assalamualaikum, Sobat Pena!
Nggak terasa, kita sudah berjalan di hari-hari awal penuh keberkahan Ramadhan. Biasanya, kalau udah masuk momen ini, algoritma media sosial, layar bioskop, sampai rak best-seller di toko buku bakal didominasi satu genre super powerfull: Fiksi Islam.
Jujur, genre ini adalah salah satu “tambang emas” di dunia literasi Indonesia. Nggak percaya? Coba lihat data adaptasi novel ke layar lebar. Novel murni Fiksi Islam kayak Negeri 5 Menara (A. Fuadi) atau kisah penuh haru seperti Hafalan Shalat Delisa (Tere Liye) sukses tembus jutaan penonton. Ini bukti nyata kalau pembaca kita sangat haus akan cerita berbalut nilai spiritual yang membumi.
Selain itu, banyak event lomba yang biasa datang saat bulan puasa menjelang. Salah satunya adalah “Pesta Menulis Litera”. Dan Fiksi Islam termasuk genre yang diangkat.
Tapi masalahnya, aku sering banget nemu penulis pemula yang salah kaprah. Mereka ngirim naskah dan ngakunya nulis “Fiksi Islam”, padahal isinya murni “Romansa Islam”. Emangnya beda, Bang Asfar? Beda kasta, Bestie! Yuk, kita bedah biar kamu nggak salah racik!
Baca juga: Kenapa Romantasy Laku Keras dan Bikin Gagal Move On?
1. Fiksi Islam vs Romansa Islam
Biar gampang, mari kita pakai “pisau bedah” narasi seperti biasa.
Fiksi Islam (Islamic Fiction) Ini adalah payung besarnya. Fiksi Islam tidak wajib punya elemen cinta-cintaan. Mesin utamanya adalah perjalanan spiritual (hijrah), krisis iman, pencarian Tuhan, atau isu-isu sosial dari kacamata Islam.
- Contoh Populer: Negeri 5 Menara.
- Tes Anatomi: Di novel Negeri 5 Menara, fokus utamanya adalah persahabatan, mimpi, dan pendidikan di pesantren. Kalaupun ada bumbu kagum sama lawan jenis, itu cuma sekian persen. Dihapus pun, cerita utamanya tetap kokoh berdiri!
Romansa Islam (Islamic Romance) Di sini, hubungan cinta (romansa) adalah mesin utama cerita, tapi dibalut dengan syariat dan nilai-nilai Islami. Konfliknya seputar ta’aruf, larangan pacaran, perjodohan, atau konflik rumah tangga bernuansa agama.
- Contoh Populer: Hati Suhita (Ning Khilma Anis) atau Ayat-Ayat Cinta (Habiburrahman El Shirazy).
- Tes Anatomi: Kalau elemen cintanya (konflik Gus Birru & Alina) dihapus, ceritanya bakal runtuh total dan tamat hari itu juga.
Jadi, jangan mikir nulis Fiksi Islam itu melulu soal ustaz tampan yang dijodohkan dengan santriwati bandel. Dunia Fiksi Islam itu jauh lebih luas dari sekadar pelaminan!
2. Pesta Menulis Litera 1: Saat Keresahan Menjadi Kisah

Nah, menyambut momen golden time ini, Litera ngadain event raksasa: Pesta Menulis Litera 1.
Tema utamanya deep banget: “Ketika Keresahan Menjelma Menjadi Kisah”.
Di lomba ini, Litera TIDAK MENCARI cerita tentang manusia suci tanpa dosa. Kami mencari cerita yang jujur, hidup, dan punya suara. Fiksi bukan sekadar hiburan, tapi cara kita memahami hidup orang lain. Kamu bisa angkat isu nyata seperti Luka Pengasuhan (toxic parenting), pilihan hidup (childfree), sampai kemiskinan struktural.
Syarat Wajib (Catat!):
- Target minimal naskah: 40.000 kata pada batas waktu 15 April 2026.
- Tidak meromantisasi kejahatan, pernikahan dini, atau LGBT.
- Tidak mengandung unsur SARA/ujaran kebencian.
3. Incar Juara “Favorit Editor” Kategori Ramadhan & Hijrah
Lomba ini ngasih hadiah utama yang nggak kaleng-kaleng (Juara 1 tembus Rp 5 Juta + 20.000 tiket biru + peluang cetak!). Tapi, kalau kamu mau main cerdas, ada celah emas yang bisa kamu sasar: Juara Favorit Pilihan Editor.
Ada 5 karya pilihan editor yang masing-masing akan mendapat Rp 200.000 + 3000 tiket biru. Salah satu sub-tema spesialnya adalah: Ramadhan dan Hijrah.
Tips Lolos Kurasi Editor:
- Hindari Tokoh Terlalu Sempurna: Jangan bikin tokoh yang baru hijrah langsung jadi malaikat. Bikin mereka jatuh bangun. Bikin mereka rindu kebiasaan lamanya, bikin mereka di-judge oleh teman-teman masa lalunya. Itu yang namanya relatable!
- Pesan Moral yang Reflektif, Bukan Ceramah: Biarkan pembaca belajar dari konsekuensi keputusan tokoh, bukan dari narasi panjang yang menggurui.
- Angkat Konflik Keseharian: Konflik hijrah nggak harus selalu melawan preman pasar. Kadang konflik terberatnya adalah: dijauhi keluarga sendiri karena perubahan penampilan, atau susah istiqomah saat lagi banyak masalah finansial.
Menurut kamu, apa sih tantangan terberat saat nulis adegan hijrah tanpa harus terdengar kayak lagi ceramah agama? Share keresahanmu di kolom komentar, ya!
Buat kamu yang mau langsung ikutan Pesta Menulis Litera 1, pastikan baca syarat dan ketentuannya secara lengkap di sini. Dan jangan lupa, join Komunitas Penulis Online Produktif biar kamu punya mentor dan support system selama nulis.
Jadi, siapkan naskah Fiksi Islam terbaikmu. Jadikan keresahanmu sebagai karya yang menyentuh jiwa.
Selamat meracik naskah, dan sampai jumpa di meja redaksi Litera!
Stay inspired!
