Table of Contents
Ada banyak alasan sebuah novel bisa membuat pembaca jatuh cinta dan itu nggak melulu karena plotnya apalagi struktur plotnya. Kebanyakan pembaca nggak tahu struktur, mereka menerima alur dan merasakan emosi.
Salah satu aspek yang ikut memainkan emosi pembaca—selain narasi dan konflik—adalah karakter.
Nggak cuma ending, keberadaan karakter yang kuat bisa bikin pembaca susah move on dari novel kita. Mereka bisa jatuh cinta, benci, greget, terhubung banget pokoknya. Dan itu seringnya nggak terjadi ketika penulis “bermain aman” saat mengembangkan karakternya.
Jadi di artikel kali ini, saya mau berikan 5 tips membuat karakter novel yang terasa hidup dan tidak terlupakan.
Baca juga: Fakta Minat Baca Gen Z
Seperti apa itu karakter yang hidup?
Saya pribadi mendefinisikan karakter yang hidup sebagai karakter yang terasa seperti manusia.
Setiap kali menulis sebuah karya fiksi entah itu cerpen atau novel, saya mau tokoh utama nggak hanya berfungsi menjalankan alur cerita, tetapi memiliki pikiran, emosi, keinginan, dan cara bereaksi yang manusiawi.
Dan itu yang mau saya tekankan di sini—manusiawi.
1. Berikan Ego dan Keinginan Terdalam (Deep Desire)
Penulis sering buat tokohnya punya ego tapi jarang melibatkan keinginan terdalam (deep desire) dari si tokoh sendiri. Di titik ini, karakter terasa satu dimensi. Untuk melibatkan emosi pembaca, kita perlu buat karakter lebih berlapis.
Gimana maksudnya?
Kita definisikan dulu ego dan deep desire yang saya maksud di sini agar kita sejalan. Ego di sini adalah sebuah keinginan yang tampak di permukaan, bagaimana tokoh ingin dilihat dan mencitrakan dirinya. Misalnya, karakter A punya ego untuk dipandang sebagai wanita ambisius yang berprestasi.
Maka penulis harus buat tindakan A sejalan dengan ego itu. Tapi untuk memberi lapisan emosional, perlu juga kita rancang deep desire dari tokoh A. Misalnya, dia hanya ingin dihargai karena sedari kecil, dia mengharapkan bantuan orang terdekatnya dan malah dianggap beban.
Contoh yang bisa kita temukan di karya legendaris misalnya Bruce Wayne yang tampil sebagai miliarder santai, suka menghamburkan uang, dan playboy. Namun, true self dari Bruce Wayne adalah sosok yang digerakkan oleh trauma masa kecil dan rasa tanggung jawab untuk melindungi kota sebagai Batman.
Cara termudah menggunakan teknik ini adalah dengan menjawab dua pertanyaan:
- Dunia melihat tokoh sebagai apa? Bagaimana tokoh mencitrakan dirinya?
- Siapa tokoh sebenarnya saat dia sendiri, saat dia merenung dan berkontemplasi?
Semakin besar jarak antara dua jawaban itu, biasanya semakin kuat dramanya.
2. Bangun Latar Belakang & Masa Lalu yang Jelas
Salah satu cara agar karakter bisa terasa lebih hidup adalah jangan buat mereka seolah muncul dari ruang kosong. Banyak penulis fokusnya di konflik pada saat ini dan menyajikan karakter apa adanya. Ya sudah begini adanya. Dia ini pria dingin, nggak suka didekati wanita meski cantik, pokoknya begitu.
Dia ini ibu rumah tangga yang berani melawan ketidakadilan, pokoknya seperti itu karakternya.
Padahal, seperti manusia di dunia nyata, setiap karakter dibentuk oleh pengalaman. Cara seseorang mencintai, marah, takut, atau mengambil keputusan seringnya merupakan hasil dari apa yang pernah terjadi dalam hidupnya. Bisa jadi dari ucapan-ucapan yang dia dengar sehingga menjadi doktrin, dari trauma, dari penyesalan, dan banyak hal lain.
Misalnya, seseorang yang tumbuh dalam keluarga penuh kritik, dia mungkin menjadi pribadi yang selalu merasa tidak cukup baik. Sebaliknya, orang yang sejak kecil terbiasa diberi kepercayaan bisa tumbuh menjadi sosok yang berani mengambil keputusan.
Pengalaman-pengalaman seperti ini membentuk cara seseorang memandang dunia, termasuk dalam hal kepercayaan, hubungan dengan orang lain, dan cara menghadapi konflik.
Hal yang sama berlaku pada karakter fiksi. Ketika seorang tokoh tampak sangat curiga terhadap orang lain, pembaca biasanya akan merasa lebih masuk akal jika kemudian diketahui bahwa dia pernah dikhianati. Ketika seorang tokoh begitu protektif terhadap adiknya, mungkin ada masa lalu yang membuatnya takut kehilangan lagi. Reaksi karakter menjadi terasa logis karena memiliki akar, ya, kan?
Tapi jangan lupa juga, menjelaskan latar belakang karakter sebaiknya tidak pakai metode ceramah di narasi. Lebih bagus, gambarkan melalui kilasan masa lalu, mimpi yang menghantui, bayangan yang muncul saat dia melamun, benda-benda bersejarah yang mengingatkan dia pada trauma, dan lain-lain.
3. Ciptakan Perang Batin (Konflik Internal)

Sering banget lho, manusia nggak benar-benar yakin dengan semua keputusan yang mereka buat. Hal yang sama juga berlaku pada karakter dalam cerita.
Karakter yang terasa hidup biasanya nggak bergerak dengan keyakinan yang mutlak. Mereka bisa saja memiliki tujuan yang jelas, tetapi pada saat yang sama dihantui oleh keraguan, rasa takut, atau rasa bersalah.
Nah, pergulatan inilah yang membuat keputusan mereka terasa lebih manusiawi.
Misalnya, kita ciptakan seorang tokoh yang ingin sekali meninggalkan desa kecil tempatnya dibesarkan untuk mengejar mimpinya di tempat lain.
Secara rasional, keputusan itu masuk akal. Eh, tapi, di sisi lain, hatinya dipenuhi rasa ragu karena harus meninggalkan kekasihnya. Dia dibayang-bayangi rasa rindu, sampai potensi pengkhianatan.
Situasi seperti ini menciptakan tarik-menarik emosi di dalam diri karakter. Karakter jadi nggak hanya berhadapan dengan masalah dari luar, tetapi juga dengan suara-suara yang saling bertentangan di dalam dirinya sendiri.
Kadang ia meyakinkan diri bahwa keputusannya benar, tetapi beberapa saat kemudian keraguan muncul lagi.
Konflik batin seperti ini penting untuk diselipkan supaya bisa membuat karakter nggak terasa datar. Jika seorang tokoh selalu yakin, selalu benar, dan nggak pernah ragu, pembaca akan sulit merasa terhubung dengannya.
Sebaliknya, ketika tokoh terlihat berjuang menghadapi perasaannya sendiri, pembaca bisa ikut merasakan ketegangan emosional yang dia alami.
Bagi penulis, konflik batin juga membuka banyak ruang untuk memperdalam cerita. Pergulatan di dalam diri karakter bisa muncul melalui dialog internal, keputusan yang berubah-ubah, atau tindakan yang kadang bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia rasakan.
4. Buat Karakter “Abu-abu” (Tidak 100% Baik/Jahat)
Hampir nggak ada manusia yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. Kebanyakan orang berada di wilayah “abu-abu”. Meskipun ada karakter yang dominan, tapi biasannya tetap ada “suara-suara” lain yang langsung ataupun tidak, mempengaruhi cara pandang dan keputusan tokoh.
Mereka bisa melakukan hal yang sangat baik dalam satu situasi, tetapi di situasi lain justru menyakiti orang lain—sengaja atau nggak sengaja. Kompleksitas inilah yang membuat manusia terasa nyata.
Karakter yang menarik dan terasa hidup biasanya malah nggak digambarkan secara hitam-putih. Kalau seorang tokoh selalu baik, selalu benar, dan nggak pernah melakukan kesalahan, justru akan terasa terlalu sempurna dan nggak manusiawi. Potensi konflik juga semakin terbatas.
Bahkan, Thanos yang merupakan villain utama pun punya niatan baik yang tersembunyi, termasuk kesedihan akan kehilangan orang yang dicintai.
Pendekatan seperti ini membuat karakter terasa lebih kompleks. Pembaca nggak cuma melihat apa yang dilakukan tokoh, tetapi juga mulai merasakan dilemanya. Sayangnya, di novel online, masih banyak penulis yang justru terobsesi membuat karakter sesempurna mungkin bahkan kebaikannya setara malaikat.
5. Manusia Nggak Sempurna dan Membuat Banyak Kesalahan Sepanjang Hidupnya
Salah satu ciri paling manusiawi dari seseorang adalah ketidaksempurnaannya. Nggak ada manusia yang selalu mengambil keputusan tepat, selalu berkata benar, atau selalu bertindak bijak sepanjang hidupnya.
Di karya-karya besar baik buku atau film, sering banget konflik terberat yang dihadapi protagonis bukan dari masalah yang disebabkan oleh antagonis melainkan masalah yang dia buat sendiri, entah itu karena nggak tahu, karena emosi, kadang juga karena memilih sesuatu yang ternyata keliru.
Karakter yang kita bangun harus diberi ruang untuk melakukan kesalahan. Jika seorang tokoh selalu membuat keputusan yang tepat dan selalu berhasil menghindari masalah, cerita akan terasa kurang greget.
Selain itu, kesalahan juga jadi peluang buat perkembangan karakter. Tokoh yang menyadari kesalahannya mungkin mencoba memperbaikinya, meminta maaf, atau belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Terakhir dan Wajib!

Tunjukkan sifat tokoh lewat tindakan, pikiran, dan keputusan yang dia buat, bukan dari ceramah narator.
Kamu bisa saja menulis bahwa tokohmu pemberani, tapi pembaca baru akan benar-benar percaya saat mereka melihat tokoh itu sungguh-sungguh bertindak nekat mengambil risiko di dalam cerita.
Penutup Tips Membuat Karakter Novel Lebih Hidup
Dari kelima tips di atas, bagian mana nih yang biasanya paling bikin kamu pusing saat nulis? Bikin latar belakang masa lalu, atau nyusun konflik batinnya?
Coba share keresahanmu di kolom komentar, ya! Dan buat kamu yang butuh mentor atau support system nulis yang asyik, pintu Komunitas Penulis Online Produktif selalu terbuka. Klik link ini buat join.
