Menulis pakai HP atau laptop mungkin terdengar seperti pertanyaan sepele. Tapi ternyata, ini cukup sering diperdebatkan. Ada yang bilang kalo ingin jadi penulis serius, ya harus pakai laptop. Sementara yang lain merasa justru lebih nyaman mengetik cerita lewat HP.

Kalo kamu bertanya kepadaku, jawabannya sederhana: dua-duanya bisa.

Yang penting bukan perangkatnya, tetapi apakah kamu benar-benar menulis atau hanya sibuk mencari alasan untuk menunda.

Baca juga: 3 Toko Buku Independen yang Estetis di Jakarta

Setiap penulis punya kebiasaannya sendiri.

Ada yang baru dapat ide saat rebahan. Ada yang baru bisa fokus kalo udah duduk di depan meja dengan secangkir kopi. Ada juga yang hobinya mencuri waktu menulis di sela jam istirahat kerja.

Kalo kamu termasuk tipe terakhir, HP jelas lebih praktis. Tinggal buka aplikasi, lalu lanjut mengetik. Gak perlu menunggu sampai pulang ke rumah hanya karena laptop masih ada di tas atau bahkan tertinggal di meja kerja.

Sebaliknya, kalo targetmu hari itu memang ingin menulis ribuan kata sekaligus, laptop biasanya terasa lebih nyaman. Layarnya lebih lega, keyboard-nya lebih enak dipakai, dan proses revisi juga jauh lebih mudah.

HP Bukan Musuh Penulis

Masih ada anggapan bahwa menulis novel lewat HP itu kurang serius. Padahal, kenyataannya banyak penulis novel online yang justru menyelesaikan puluhan bahkan ratusan bab hanya dari layar ponsel.

Kalo kamu masih ragu, coba lihat kisah Deni Riyaningsih, seorang ibu asal Kulon Progo.

Selama sembilan tahun, Deni merawat anaknya yang mengalami kelumpuhan akibat gigitan ular weling. Di tengah kesibukan itu, ia mulai menulis novel digital hanya bermodal sebuah HP. Awalnya, menulis hanyalah cara untuk mengusir penat dan mengisi waktu ketika menjaga sang anak.

Siapa sangka, naskah pertamanya diterima di platform novel online. Sejak tahun 2021, ia konsisten menulis sekitar 800 hingga 1.000 kata setiap hari. Hingga kini, Deni telah menerbitkan 32 novel digital di berbagai platform.

Hasil dari menulis tidak hanya memberinya semangat baru, tetapi juga membantu perekonomian keluarga. Dari honor menulis, ia bahkan bisa membeli sebuah sepeda motor bekas. Menariknya, setelah berhasil menerbitkan puluhan novel, Deni masih menulis menggunakan HP. Laptop justru menjadi impian yang ingin ia beli dari hasil menulisnya.

Kisah itu mengingatkan kita bahwa perangkat bukanlah penentu seseorang bisa menjadi penulis. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus membuka naskah dan menulis, meski hanya beberapa ratus kata setiap hari.

Laptop Juga Punya Kelebihan

Meski begitu, laptop tetap punya nilai lebih.

Saat naskah mulai panjang, kamu pasti akan sering bolak-balik membuka beberapa bab sekaligus. Kadang perlu melihat outline, kadang mengecek catatan karakter, lalu kembali lagi ke halaman yang sedang direvisi.

Di situ laptop memang lebih unggul.

Layar yang lebih besar membuat mata tidak cepat lelah. Mengetik juga terasa lebih cepat, apalagi kalo kamu terbiasa menggunakan sepuluh jari.

Kalo pekerjaanmu lebih banyak masuk ke tahap revisi, editing, atau menyusun outline yang rumit, laptop jelas memberikan pengalaman yang lebih nyaman.

Yang Sering Jadi Masalah Justru Bukan Perangkat

menulis pakai HP atau laptop kelebihan

Lucunya, banyak orang sibuk membandingkan HP dan laptop, padahal masalah utamanya bukan di situ.

Pernah nggak?

Udah punya laptop yang bagus, tapi file novelnya terakhir dibuka tiga bulan lalu.

Atau sebaliknya.

HP selalu ada di tangan, tetapi lebih sering dipakai membuka media sosial daripada menulis satu paragraf.

Kalo udah begini, mengganti perangkat gak akan banyak mengubah hasilnya.

Yang perlu diubah justru kebiasaan menulisnya.

Pakai Apa yang Membuatmu Mau Menulis

Kalo hari ini kamu lebih nyaman mengetik lewat HP, lanjutkan aja.

Kalo besok ingin revisi lewat laptop, juga gak ada masalah.

Banyak penulis memang menggunakan keduanya. Draft pertama ditulis saat ide muncul di HP. Setelah ceritanya mulai panjang, barulah dipindahkan ke laptop untuk diedit dengan lebih nyaman.

Gak ada aturan baku yang mengatakan penulis harus memakai perangkat tertentu.

Kalo saat ini yang kamu miliki baru sebuah HP, jangan buru-buru merasa minder. Selama kamu terus menulis, perangkat itu sudah lebih dari cukup untuk memulai.

Penutup

Pada akhirnya, menulis pakai HP atau laptop bukan soal mana yang lebih hebat.

Novel tidak selesai karena ditulis dengan perangkat mahal.

Novel selesai karena penulisnya mau kembali membuka naskah hari demi hari, lalu menambahkan satu paragraf, satu halaman, hingga akhirnya menjadi sebuah cerita utuh.

Jadi, kalo hari ini ide itu muncul saat kamu hanya memegang HP, jangan ditunda.

Siapa tau, novel yang kelak mengubah hidupmu justru dimulai dari layar kecil yang sekarang ada di genggamanmu.


Masih sering menunda nulis karena merasa alatnya kurang memadai? Singkirkan alasan itu sekarang! Yuk, gabung dan cari teman support system yang sama-sama berjuang menamatkan naskah di Komunitas Penulis Online Produktif (KPOP). Entah kamu Tim HP atau Tim Laptop, kita berkarya bareng di sini. Amankan tempatmu di komunitas sekarang!

Sumber referensi:

https://jogjapolitan.harianjogja.com/r-1245763/9-tahun-merawat-anak-lumpuh-ibu-bertahan-menulis-32-novel-digital

Asfar Asfahan SEO Editor Penacendekia

Asfar Asfahan

Blogger, SEO Editor, Koord Media-Teknologi KPOP, dan Author Novel Online @Litera

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *