Table of Contents
Pernah niat buka media sosial cuma lima menit, tapi tiba-tiba satu jam kok nggak kerasa? Kalo iya, kamu nggak sendirian. Kebiasaan doomscrolling udah jadi bagian dari kehidupan banyak orang, terutama Gen Z yang tumbuh selaras dengan internet dan media sosial.
Dalam artikel ini, aku mau berbagi pengalaman berhenti doomscrolling selama 7 hari, perubahan yang terjadi, serta tips sederhana yang bisa kamu coba kalau pengen mengurangi kebiasaan scrolling berlebihan.
Baca juga: Kamu Tim Kopi atau Tim Musik: Tipe Penulis Menurut Kebiasaannya
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah sebuah kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif atau konten tanpa henti melalui media sosial, portal berita, dan platform digital lainnya. Istilah ini berasal dari kata doom (malapetaka atau kabar buruk) dan scrolling (aktivitas menggulir layar ponsel).
Awalnya, kita mungkin hanya ingin mengetahui informasi terbaru. Namun, karena algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, kita akhirnya terus menggulir layar meskipun sadar bahwa konten tersebut memicu rasa cemas, lelah, atau tidak nyaman.
Tanpa disadari, kebiasaan ini sangat memengaruhi fokus, kualitas tidur, produktivitas, hingga kesehatan mental kita.
Kenapa Gen Z Rentan Mengalami Doomscrolling?
Generasi Z hidup di era di mana informasi tersedia hanya dalam hitungan detik. Kita sudah terbiasa menerima notifikasi, video pendek, berita viral, dan tren baru setiap saat. Berikut adalah alasan mengapa Gen Z sangat rentan terhadap doomscrolling:
- Takut Ketinggalan Informasi: Fenomena fear of missing out (FOMO) membuat kita merasa harus selalu mengetahui berita terbaru, tren TikTok, atau perbincangan yang sedang ramai.
- Algoritma Media Sosial yang Sangat Personal: Semakin lama kita melihat sebuah konten, semakin banyak konten serupa yang muncul di beranda. Akibatnya, kita terjebak dalam lingkaran informasi yang sulit dihentikan.
- Konten Negatif Lebih Menarik: Secara alami, otak manusia cenderung lebih fokus pada ancaman atau informasi negatif. Fenomena ini dikenal sebagai negativity bias.
- Akses yang Terlalu Mudah: Ponsel selalu berada di dekat kita. Saat bosan, cemas, menunggu antrean, atau sebelum tidur, membuka media sosial menjadi kebiasaan otomatis.
Aturan Tantangan Pengalaman Berhenti Doomscrolling Selama 7 Hari
Sebelum memulai tantangan ini, aku menetapkan beberapa aturan sederhana:
- Nggak buka media sosial selama 60 menit setelah bangun tidur.
- Nggak menggunakan media sosial satu jam sebelum tidur.
- Matiin notifikasi dari aplikasi media sosial.
- Membatasi waktu penggunaan media sosial maksimal 45 menit per hari.
- Ganti waktu scrolling dengan aktivitas lain, seperti membaca buku, berjalan kaki, atau menulis jurnal.
Aku nggak hapus semua aplikasi media sosial. Tujuannya bukan untuk sepenuhnya lepas dari internet, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Hari Pertama: Tangan Refleks Mencari Ponsel
Hal pertama yang aku sadari adalah betapa seringnya aku buka media sosial tanpa alasan yang jelas.
Pas nunggu makanan datang, nunggu balasan pesan, atau bahkan pas lagi kerja, tanganku otomatis cari ponsel.
Aku baru sadar kalau selama ini scrolling bukan lagi kebutuhan, melainkan kebiasaan.
Hari pertama adalah hari paling sulit karena otak masih mencoba cari stimulasi instan yang biasa didapatkan dari video pendek dan notifikasi.
Hari Kedua: Muncul Rasa Bosan
Biasanya, setiap jeda waktu langsung aku isi dengan membuka media sosial.
Ketika kebiasaan itu dihentikan, muncul rasa bosan yang cukup kuat.
Tapi, aku mulai sadar sesuatu. Selama ini, aku terlalu takut merasa bosan.
Padahal, rasa bosan tuh memberi ruang bagi otak untuk istirahat dan memunculkan ide-ide baru.
Alih-alih scrolling, aku coba baca beberapa halaman buku yang udah lama terbengkalai. Ya, buku yang udah lama cuma aku tumpuk.
Hari Ketiga: Fokus Mulai Kembali
Hari ketiga menjadi titik balik.
Aku merasa lebih mudah konsentrasi saat kerja dan nggak terlalu sering pindah dari satu tugas ke tugas lainnya.
Biasanya, setiap notifikasi atau dorongan untuk membuka media sosial membuat fokusku pecah.
Dan ketika gangguan itu berkurang, aku bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.
Aku juga mulai menyadari bahwa banyak informasi yang selama ini aku konsumsi ternyata nggak benar-benar penting.
Hari Keempat: Tidur Lebih Nyenyak
Sebelumnya, aku sering buka media sosial sampai larut malam.
Tanpa sadar, satu video memicu video berikutnya, lalu berlanjut ke berita, komentar, dan berbagai topik lain.
Malam itu, aku coba ganti kebiasaan scrolling dengan baca buku selama 20 menit.
Hasilnya cukup mengejutkan, aku tidur lebih cepat dan bangun dengan perasaan yang lebih segar.
Hari Kelima: Kecemasan Berkurang
Aku mulai merasa lebih tenang.
Berhenti terpapar arus informasi negatif sepanjang hari bikin pikiranku nggak terlalu penuh.
Aku tetap mengikuti berita penting, tapi nggak lagi mengonsumsi informasi secara berlebihan.
Ternyata, mengetahui segala hal yang terjadi di internet bukanlah kewajiban.
Ada banyak informasi yang sebenarnya nggak berdampak langsung pada kehidupan kita.
Hari Keenam: Waktu Luang Bertambah
Sebelum melakukan tantangan ini, aku merasa nggak punya cukup waktu untuk membaca, berolahraga, atau mencoba hobi baru.
Tapi, setelah mengurangi doomscrolling, aku baru sadar bahwa waktunya tuh sebenarnya ada. Hanya saja, aku menghabiskannya tanpa sadar.
Kalau dikumpulkan, waktu scrolling selama satu hingga dua jam per hari setara dengan tujuh hingga empat belas jam dalam seminggu.
Bayangkan, berapa banyak hal yang bisa dilakukan dengan waktu sebanyak itu?
Hari Ketujuh: Lebih Sadar Menggunakan Teknologi
Setelah satu minggu, aku nggak merasa harus sepenuhnya meninggalkan media sosial.
Sebaliknya, aku belajar menggunakan teknologi dengan lebih sadar.
Sekarang, aku buka media sosial dengan tujuan yang jelas, bukan sekadar karena bosan.
Aku juga lebih selektif memilih akun yang diikuti dan jenis konten yang dikonsumsi.
Apa yang Berubah Setelah 7 Hari?
Setelah tujuh hari, yakin nggak udah ada perubahan apa belum?
Pastinya sudah. Dan aku sadar betul.
Berikut beberapa perubahan yang paling terasa setelah tujuh hari:
- Fokus yang meningkat.
- Kualitas tidur yang membaik.
- Tingkat kecemasan yang berkurang.
- Produktivitas yang meningkat pesat.
- Waktu luang yang bertambah banyak.
- Keinginan membuka ponsel yang jauh lebih terkendali.
Perubahan ini mungkin nggak terjadi secara instan pada semua orang. Namun, mengurangi doomscrolling bisa membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Dampak Doomscrolling bagi Kesehatan Mental
Lebay banget, sih, pake bawa-bawa kesehatan mental segala!
Nggak, Gaes. Ini bukan lebay. Ini beneran bisa aja terjadi kalau terus-terusan terjadi. Doomscrolling yang dilakukan secara terus-menerus dapat memberikan dampak negatif, seperti:
- Meningkatkan kecemasan.
- Menurunkan kualitas tidur.
- Menyebabkan kelelahan mental.
- Menurunkan kemampuan untuk fokus.
- Memicu perasaan stres dan kewalahan.
Semakin banyak informasi negatif yang dikonsumsi, semakin sulit bagi otak untuk beristirahat.
Karena itulah, penting untuk menetapkan batasan yang sehat dalam penggunaan media sosial.
Cara Mengurangi Doomscrolling yang Bisa Kamu Coba
Kalau kamu merasa sulit berhenti scrolling, berikut beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan:
- Matikan notifikasi tidak penting: Notifikasi dirancang untuk menarik perhatian kita. Semakin sedikit gangguan, semakin mudah mengendalikan kebiasaan membuka ponsel.
- Buat batas waktu: Manfaatkan fitur screen time atau digital wellbeing untuk membatasi durasi penggunaan media sosial.
- Hindari ponsel setelah bangun tidur: Memulai hari dengan notifikasi dan berita negatif dapat memengaruhi suasana hati sepanjang hari. Cobalah menggantinya dengan aktivitas lain, seperti minum air putih, berolahraga ringan, atau membaca.
- Tetapkan zona bebas ponsel: Misalnya, tidak menggunakan ponsel saat makan, belajar, atau satu jam sebelum tidur.
- Kurasi konten: Berhenti mengikuti akun yang membuatmu merasa cemas, lelah, atau tidak nyaman. Pilih konten yang memberikan nilai tambah dan inspirasi.
- Cari aktivitas pengganti: Alihkan perhatian dengan membaca buku, menulis jurnal, berolahraga, memasak, mendengarkan podcast, atau berjalan kaki.
Apakah Kita Harus Berhenti Menggunakan Media Sosial?
Jawabannya TIDAK.
Media sosial tetap memiliki banyak manfaat, mulai dari mencari informasi, membangun relasi, hingga belajar hal baru.
Masalahnya bukan pada media sosial itu sendiri, melainkan cara kita menggunakannya.
Tujuannya bukan digital detox ekstrem, tetapi menciptakan kebiasaan digital yang lebih sehat dan seimbang.
Gunakan media sosial sebagai alat, bukan tempat menghabiskan seluruh perhatian dan waktumu.
Kesimpulan
Berhenti doomscrolling selama tujuh hari membuatku menyadari satu hal penting: banyak waktu, energi, dan perhatian yang selama ini terbuang untuk informasi yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Dalam seminggu, aku merasakan perubahan pada fokus, kualitas tidur, produktivitas, dan kesehatan mental.
Kalau kamu merasa semakin sulit berkonsentrasi, mudah cemas, atau sering kehilangan waktu karena media sosial, mungkin ini saatnya mencoba tantangan yang sama.
Mulailah dari langkah kecil.
Matikan notifikasi, batasi waktu penggunaan aplikasi, dan beri ruang bagi otakmu untuk beristirahat.
Karena di era banjir informasi, kemampuan untuk memilih apa yang layak mendapat perhatian adalah salah satu bentuk literasi paling penting.
Kalau kamu diberi tantangan berhenti doomscrolling selama tujuh hari, apa hal pertama yang akan kamu lakukan?
Tantangan 7 hari berhenti doomscrolling ini akan terasa jauh lebih ringan kalau kamu punya support system yang satu frekuensi. Butuh lingkungan positif biar naskahmu cepat tamat? Mari merapat ke Komunitas Penulis Online Produktif (KPOP)! Kita ubah waktu luang dari puasa media sosial menjadi ruang untuk meracik cerita. Klik di sini untuk bergabung dengan KPOP
